Langsung ke konten utama

SILUET TAKDIR YANG TLAH HADIR


SILUET SATU
------ Tentangnya -----

Menunggu
Sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku
Saatku harus bersabar dan terus bersabar
Menantikan kehadiran dirimu
Entah sampai kapan aku harus menunggu
Sesuatu yang sangat sulit tuk kujalani
Hidup dalam kesendirian sepi tanpamu
Kadang ku berfikir tuk cari penggantimu
Saat kau jauh di sana



Gelisah sesaat saja tiada kabarmu ku curiga
Entah penantianku akan sia-sia dan berikan suatu jawaban pasti
Entah sampai kapan aku harus bertahan
Saat kau jauh di sana rasa cemburu
Merasuk ke dalam pikiranku melayang tak tentu arah tentang dirimu
Apa kah sama yang kau rasakan


Aku memejamkan mata meresapi bait lagu yang menggema seantero kafe kecil tempatku berburu hotspot gratisan, sekalian makan siang yang sempat tertunda. Rutinitas kerja, kesibukan organisasi, kepenatan bergumul dengan tugas yang tak kunjung usai membuatku semakin melupakan diriku, dan kesendirianku. Bersama lagu merdu itu aku melayang jauh mengawang menuju kota kecil tempatku menghabiskan masa remajaku, Bangko. Kota kenangan yang begitu mengagumkan, ah begitu banyak kenangan yang tak pernah terlupakan, di sana aku menemukan sahabat, kasih sayang, cemburu, rasa memiliki, di sana juga aku menemukan arti cinta yang sesungguhnya, semua ku jalani semua ku nikmati mengalir penuh warna.. ah indahnya.. Boleh kah aku menjumpai dirimu kembali hanya sekedar tuk menyapa sehatkah dirimu, hanya sekedar ingin melihat kilasan bayangmu yang telah mengabur berupa sketsa usang berdebu di gudang tua, bolehkah… sebentar saja.. ku ingin mengenangmu yang telah lama ku kubur dalam inginku.
Hari itu, hari pertama aku menjadi siswa SMA, hari pertama aku bertemu denganmu, aku ingat, saat awal perkenalan kita di saat upacara bendera sedang berlangsung.
“Bisa tidak jilbabmu tidak mengganggu wajahku…”
Wajah keberatanmu menusuk kalbuku. Aku menunduk sembari membenahi ujung jilbabku yang melambai tertiup angin, alhasil wajahmu yang tepat duduk di sampingku menjadi menu utama kenakalan jilbabku, aku tau sejak protes keberatanmu tadi, tak sekejap pun matamu beranjak menatap wajahku, aku tersenyum pahit mengingat bagian ini, setetes bening menggenang di kelopak mataku, pedih… kembali ku telusuri tentangmu..
Seminggu berlalu… meri teman sebangkuku menemuiku dengan wajah seperti sedang menahan pipis,
“Dapat salam dari firman anak kelas 1.B sebelah, yang keren abis tu, kapten basket n vokalisnya dezhong band, uuuuhhh aku benar-benar ga nyangka.. kamu seberuntung ini zia, terima ya terima ya..”
Sekarang meri persis sedang kebelet BAB, ia memandang wajahku yang sedang serius menggarap lembar demi lembar novel tenggelamnya kapal van der wijk karangan buya hamka yang tenar itu, seperti biasa aku cuek tak acuh menanggapinya, aku memang dikenal sangat tertutup dan pendiam bahkan nyaris tanpa kata, tiap hari aku selalu sendiri dengan buku perpustakaan sekolah. tapi sumpah sebenarnya saat itu aku sangat gugup, hingga ujung jariku membeku, gejolak hatiku membara membius rasa yang tersimpul rapi tepat di jantungku, menimbulkan getaran elektromagnetik, aku menduga jika saat ini aku mengkonversi getaran ini menjadi tenaga listrik maka masyarakat tak perlu repot-repot berantem dengan pemerintah soal kenaikan tarif TDL, tapi aku tak bergeming dan tak berekspresi, aku melengos tak acuh, sikapku membuat meri di sebelahku bengong tak bergerak, tak mengerti dengan ulahku, menurut hematnya firman adalah limited edition cowok keren yang dimiliki SMA kami, jadi tak pantas menerima reaksi dinginku.
“what…. Zia Jangan bilang kalo kamu tidak tertarik dengan iman!!
Aku tau saat itu kau sedang menunggu reaksiku di balik kaca jendela perpustakaan dan sangat gelisah menanti kabar berita dari meri, sekilas aku menyapu pandangku ke arahmu. Aku menangkap wajahmu yang memandangku dengan penuh harap, kau berusaha tersenyum semanis gula, dan melambaikan tanganmu, aku menunduk kembali menyusuri buku di tanganku, walau di hatiku sedang musim semi tapi ku tau wajahku saat ini sedang musim dingin, maaf aku tak bisa menunjukan reaksi seperti yang kau inginkan, aku tau alasan inilah aku di nobatkan dengan julukan putri salju, kembali aku tersenyum, aku ingat saat itu wajahmu, ekspresi yang kau lukiskan, serasa menjalar ke syarafku saat ini, diam-diam aku menoleh ke pintu kafe walau ku tau tak ada apa-apa disana, tapi aku selalu merasakan senyum itu seolah-olah begitu nyata, seolah kau berada di sana di pintu kafe itu, ya kau sedang tersenyum layaknya senyum semanis gula di pintu perpustakaan sekolah tempoe doeloe, aku menyeruput capucino dingin yang kupesan, sedih.. aku tau saat ini aku seperti sedang menggerus hatiku, ujung-ujungnya aku melihat diriku membalut lukaku sendiri,
Perih…

----- Menunggumu ----

Lagu itu mengalun lagi….
Gelisah sesaat saja tiada kabarmu ku curiga
Entah penantianku takkan sia-sia dan berikan satu jawaban pasti
Entah sampai kapan aku harus bertahan
Saat kau jauh disana rasa cemburu
merasuk kedalam pikiranku melayang tak tentu arah tentang dirimu
Apa kah sama yang kau Rasakan
Aku menghela nafas sembari memencet tombol keyboard leptopku, tanpa sadar aku mengetik satu nama di akun facebookku, hal yang biasa ku lakukan tanpa pernah kusadari, jari-jariku tak kenal lelah mencarimu di dunia maya, kadang letih ku jalani kebodohanku, karna ku tau setiap nama yang muncul di akun browser itu tak pernah ada dirimu, engkau hilang bukan hanya dari pandanganku tapi aku merasa hatimu juga tlah pergi meninggalkanku, nyatanya kau tak pernah mencariku layaknya aku yang senantiasa mencarimu dan menunggu, jika boleh jujur selama sebelas tahun ini aku tak pernah membuka hatiku untuk pria manapun, bagaimana mungkin aku bisa menerima hadirnya orang lain, hatiku tlah dipenuhi oleh dirimu seorang. Kadang aku merasa bodoh mengapa harus mengingatmu, mengapa harus selalu kamu, sementara aku tahu kau hanya kepingan masa laluku, masa laluku yang indah sekaligus menyedihkan, lama aku menyadari hal ini aku ingin menjadikanmu kenangan, tapi yang ada hanya ku terjebak bersama kenanganku, aku tak mampu bangkit, karna semua terlalu indah untuk dilupakan.
”Menunggu adalah sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku
Saat harus bersabar dan terus bersabar menantikan kehadiran dirimu….
Entah sampai kapan aku harus bertahan
Sesuatu yang sangat sulit tuk kujalani
Di dalam kesendirian sepi tanpamu…

Ah… meneteslah, meneteslah dengan perlahan biar ku maknai setiap rasa yang membuncah sesak bersama rinduku…. Kau hadir lagi mengawang di mataku…
“kenapa kau memakai jilbab?
Aku cuek tetap menekuni bacaanku, aku tersenyum sendiri mengingat aksimu seperti orang bodoh, bingung menghadapi ku yang not responding, kau bertanya dan menjawab sendiri setap pertanyaanmu.
“ha… aku tau kau takut item ya… em.. bukan-bukan kau kan udah item ha ha…
Aku menatap tajam ke arahmu
“aiihh galak…. mayang mau di panggil yayang, sayang, dinda or… “
Pipimu bersemu merah saat menyadari kekonyolanmu di depanku tapi matamu tak pernah berhenti menatapku, sejujurnya tak pernah ku sanggup berkata jika melihat tatapan itu, namun aku tau sifat dinginku mampu menutupi helai gelisahku.
“aku tidak mempermainkanmu, aku sungguh-sungguh denganmu, percaya sama iman ya! tatapanmu meyakinkanku,
Aku tak peduli
“Ah…. kau naksir aku kan! Keliatan lagi, tu pipimu merah, denger ya non, cowok keren sepertiku cuma sedikit populasinya di dunia, ku harap besok kau tidak menyesal… o ya kalau kau berubah pikiran, just say you love me baby ok…
Tetap tak bergeming,
Kau berlalu dari ruang mataku sambil menyunggingkan senyum penuh arti, meninggalkan aku yang sibuk dengan pikiranku sendiri, parah ada ya orang senekat itu, setahuku hanya dia yang mampu berada di dekatku selama 15 menit. meri teman sebangku dan kurasa orang yang paling dekat denganku pun tak pernah bertanya padaku karena yakin tak akan di gubris, dia hanya bercerita saja dan aku menyimak dengan baik, paling reaksiku hanya mengerutkan kening jika ceritanya terdengar tak masuk akal, tersenyum jika ceritanya terdengar lucu, mengangguk, menggeleng, memonyongkan bibir, dan mendelik jika dia mencubit pipi cabi ku dan biasanya setelah mencubit pipiku dia lari pontang-panting kegirangan sekaligus teriakan kecilnya. dan aku kembali menggeleng.. nyaris setiap hari tanpa suara. suaraku hanya terdengar saat guru mengabsen siswanya setiap pagi, dan saat pak guru menyebut namaku “MAYANG SAZIA PUTRI” aku mengangkat tanganku.. seantero kelas terdiam menunggu momen ni.. termasuk pak guru, pelan aku menjawab “saya pak” semua nampak lega termasuk pak guru.
Aku menunduk memandangi lantai yang berdebu, bingung.. secepatnya ku angkat kepalaku memandang siluet bayangmu yang telah menghilang di ujung koridor sekolah, entah kemana, ini pertama kalinya aku merasa diperhatikan sedemikian rupa, sejak saat itu kau selalu hadir di hadapanku melakukan hal-hal konyol di luar akal sehat, kau selalu ingin aku perhatikan.
Aku ingat ulah bodohmu yang membuat heboh satu sekolah saat kau tiba-tiba muncul di hadapanku dan memberiku setangkai kembang sepatu yang baru kau petik dari kebun sekolah, norak.. sangat norak, kau memaksaku untuk menerima bunga konyolmu, dan mengancam tidak akan beranjak sebelum bunga bodohmu ku terima dan ku cium di depanmu, aku yang pendiam tak mampu berbuat apa-apa, kecuali melotot (Sampai kedua bola mataku mau melompat rasanya), mendengar ancaman gilamu. Saat itu aku benar-benar panik dan terpaksa menerima bunga darimu, kau berteriak histeris seperti menang undian mendapatkan satu unit mobil kau mengacungkan kepalan tangan setinggi-tingginya dan berteriak lantang “ yesssss..” kemudian berlalu meninggalkanku yang jengkel minta ampun, sejenak kau menoleh lagi dan menyunggingkan senyum khas yang sangat menjengkelkan buatku.. tapi saat itu tanganku tanpa sadar menjatuhkan bunga pemberianmu lewat jendela, ku rasakan senyuman kesuksesanmu mendadak hilang.. wajahmu berubah muram dan pucat, seolah tak percaya dengan apa yang kau lihat, aku tau kau berusaha menerima kenyataan dan kau pun berlalu tanpa kata. Semua teman yang tadinya bersorak mendadak diam. Hening.. semua merasakan kepedihanmu.. aku pun begitu.
Aku tau saat itu aku sangat menyakiti perasaanmu, aku tau perasaan dan harapanmu yang begitu mendalam terhadapku seketika ku hancurkan seperti susunan puzzle yang berantakan. Satu goresan luka tlah kutorehkan di hatimu. Menjelma keraguan dalam hatimu tentangku. Ku membaca itu dari matamu. Tanpa sadar akupun terluka, karna aku sangat sedih menyaksikan luka dimatamu, untuk pertama kalinya aku merasa menyesal tlah melukai perasaanmu.
Seminggu berlalu, sejak peristiwa kembang sepatu itu kau hanya berani menatapku dari kejauhan, aku merasa kau ingin sekali berada di dekatku, kau ingin sekali mendekatiku, akupun demikian kangen sekali dengan caramu mendekatiku, ulah konyolmu, dan tatapan matamu yang mengagumkan. Tapi aku tau kau masih trauma dengan peristiwa kembang sepatu menyedihkan itu, kau benar-benar merasa tersakiti. Hari ini untuk pertama kalinya buatku lapangan basket lebih menarik perhatianku dibanding perpustakaan. Hari ini kau main basket aku menyela di antara siswi putri yang memenuhi pinggiran lapangan, aku memandangmu yang begitu memesona mataku, tanpa sadar kau menoleh ke arahku, seperti “flash” kamera begitu cepat bak kilat, senyummu pun mengembang, menumpahkan energi yang luar biasa, semangatmu kini bertambah berkali lipat dari kekuatan semula, dan untuk pertama kalinya aku memberi senyum terbaikku untukmu tanpa segan. Akupun berlalu meninggalkanmu, langkahku lebih ringan menuju kursi perpustakaan sekolah, aku melangkah dengan senyum mengembang, senyum terus.


Perpustakaan sekolah..
Kau menghempaskan diri disampingku, masih memakai kostum olah raga dan bola basket di tanganmu, kau mengembangkan cengiran terbaikmu di sebelahku, aku menggeser kursiku, mulai tak nyaman.
“ em.. makasih ya untuk kehadiranmu di lapangan tadi, itu benar-benar amazing..” kau membaca raut wajahku yang sebagian tertutup buku yang ku baca, aku mulai merasa tak nyaman.
aku terdesak dan aku menjawab.
“ Bukan begitu, tadi aku mencari Meri.. jadi berada di sana.. aku berusaha menutupi seluruh wajahku dengan buku bacaanku, aku malu sekali karena ketauan merindukannya, sejenak kau terdiam, kaget! mungkin ini kali pertama dia mendengar suaraku.
“ kau bohongkan, btw senyummu tadi manis banget… senyum sekali lagi…!
Aku tersentak saat kau menarik buku yang kubaca…
“yah yah plissss… senyum sekali lagi untukku…!!
Wajahmu tepat didepanku, aku tak mampu mengelak dari tatapanmu tanpa sadar akupun tersenyum. senyum yang paling sulit kulakukan dalam hidupku. Hatiku damai nian saat kau berada di dekatku.
Semenjak peristiwa di perpustkaan sekolah itu, kau selalu mengunjungiku ketika jam istirahat, kau yang slalu datang kesekolah sebelum pukul tujuh (jam datang ku kesekolah) dan biasanya kau slalu absen ke mejaku, menyapa bangkuku dengan ramah, kadang menungguku, menceritakan hal remeh temeh sampai hal-hal besar dalam hidupmu, bertanya mengapa aku tak mau diajak nge-date, mengapa aku enggan jalan denganmu, mengapa aku begitu pendiam, mengapa aku begitu tenang (seperti tak punya masalah saja) kadang dengan ragu kau bertanya mengapa aku terkesan begitu cuek padamu, mengapa buku lebih menarik buatku dari pada pada dirimu, banyak sekali pertanyaan yang slalu kau tanyakan padaku, kadang kau menarik buku yang kubaca seolah cemburu aku lebih memilih buku ketimbang memperhatikan dirimu. Kalau sudah begitu aku melotot. Kau nyengir dan mengembalikan bukuku. Aku menyambar buku, kembali kerutinitas semula, kau bercerita dan aku membaca buku. Makanya aku merasa kau orang paling betah berada didekatku.

--- KEJUTAN I ----
Pagi sekali aku masuk ke dalam kelas, seperti biasa aku meletakkan tas, menyeka meja, merapikan kursiku, membuka buku dan kau yang nyengir tanpa kuminta, tapi kali ini sedikit berbeda kau tidak mengambil bukuku, kau hanya duduk manis di depan mejaku, kau memandangku ragu, menyelidik, membaca raut wajahku, berfikir, menggeleng, menunduk, menggigit bibir, menggigit jari, mengetuk meja, menoleh lagi, menggeleng lagi, begitu terus. Sampai aku menghentikan bacaanku giliran aku yang memperhatikan ulahmu, tak berkedip. Tak bertanya hanya keningku berkerut apakah gerangan yang telah terjadi dengan pria aneh di depanku ini. Kau mengalah dan bertanya “kemaren aku bawa majalahmu yang tertinggal di laci bangkumu, sepulang latihan basket aku ke kelasmu, aku membaca beberapa bagian, di majalah itu disampaikan -lelaki yang baik hanya untuk perempuan yang baik- benar begitu?
Aku mengangguk,
“kalo gitu hubungan kita terancam punah dong?
Aku mengangkat bahu, dalam hatiku bertanya hubungan apa!
“Zia kan baik, solehah, rajin belajar, ehem.. dan cantik…” suaranya bergetar sungguh-sungguh…
Aku luluh dan meletakkan buku di atas meja. pura-pura mendengar dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. berikutnya dengan nada setengah yakin.
“zia ajari iman sholat ya, sekalian ngaji deh…
Aku mengerut kening.. “untuk apa?”
“iman serius mau berubah menjadi lebih baik, dan iman serius ingin bersama zia di dunia dan di akhirat”
Aku menjawab.
“barang siapa yang hijrah karna allah dan rasulnya, maka dia akan mendapatkan allah dan rasulnya, barang siapa hijrah hanya untuk mendapatkan wanita yang di cintainya maka hanya itu yang akan ia dapat..
Mulutmu membulat… “ oooo” kemudian bertanya
“Maksudnya apa?”
Hem.. payah ni anak, lagaknya paham.. aku mendengus.. dan mengambil alquran di saku tasku, “kita mulai abis pulang sekolah aja, nanti iman bawa kemas aja ya nemenin kita!
“buku panduan solatnya mana…
Enteng ku jawab “ di perpustakaan dan di toko buku…
Kau terkekeh, puas, karena hari ini hari paling banyak aku berkata, hal yang jarang sekali kau temui sejak kenal denganku.
Mulai hari itu setiap pulang sekolah aku menjadi guru ngaji, aku tak menyangka kau ternyata murid yang cerdas. Sampai-sampai kopiahmu melorot menutupi mata, belakangan aku tau itu kopiah minjem punya kemas. Pantas kebesaran. Kadang suaramu tumpah, kadang serak, kadang tersendat, sampai keringat bercucuran kau masih tak menunjukan lelah, padahal perutku tlah keroncongan. Saat ku bilang “ kita terusin besok” kau mengangkat wajah dan bilang “ kok besok, tanggung.. ntar lagi ya…” kau kembali menekuni alquran, aku melongo, kemas mesem. Akhirnya perutku jujur mengakui bahwa minta di isi, bergemuruh. Kau menatapku mengerti. Aku tersenyum malu. Dan aku tak mau di ajak makan apalagi di antar pulang. Hal yang paling membingungkan buatmu.


------ Kejutan II -----
Siang jum’at sepulang dari sekolah aku dan sahabatku meri mampir ke pasar, ada beberapa keperluan yang harus ku beli, suara kresek-kresik mesjid raya yang berada ditengah pasar menggema, sibuk melantunkan salawat nabi, hal yang biasa dilakukan sebelum menunggu jama’ah solat jumat berdatangan. Aku melewati mesjid raya dan mampir di toko cendol langganan aku dan meri. Secangkir cendol tlah membasahi kerongkonganku, meri sibuk mengintrogasiku dengan beberapa pertanyaan, misalnya: mengapa iman jadi aneh begitu (sibuk nenteng buku tuntunan solat lengkap), mengapa iman jadi baik begitu (ga pernah bolos sekolah lagi n ga tidur dikelas), zia kasih obat apa tu anak sudah taubatan nasuha tak sibuk ngerokok lagi, bahkan sekarang topi telah berganti peci, anak pesantren dia.
Aku menjawab dengan senyum, karena sibuk nyendokin cendol ke dalam mulut (bukankah harus khusuk dalam melaksanakan segala hal). Meri maklum, jika semua pertanyaanya ga bakal dijawab, tapi tetap aja dia ga bosan bertanya ini-itu padaku. Ga pernah lelah apalagi nyerah. Pada saat kami sedang asyik ngobrol. Sebuah mobil kijang mendarat didepan toko es cendol. beberapa orang pria muda berhamburan keluar dari pintu mobil semua berbaju koko dan memakai sarung. Aku hampir tersedak melihat mereka, tak salah lagi itu iman n the gank. “Oh my god eh subhanallah”
Aku buru-buru menunduk terlambat meri sudah melengkingkan suara cemprengnya “
“Imaaaaaan… kemas…. kita disini.. gabung yook…
Aih apa pula ni anak. Selang beberapa detik di depan hidungku telah terukir wajah “iman anak soleh” judulnya.. aku pura-pura tak tau semua kursi yang ada di dekat kami telah dipenuhi manusia berkoko dan bersarung itu. Iman n the gank.
“ya’(zia maksudnya) kok belum pulang, biasanya jam segini udah ngabur..
Meri menyalak…
Aku menyendok cendol ke mulutku, tak peduli..
“kita lagi belanja alat-alat untuk nyulam, tugas dari bu prima..
“ooo udah dapat yang dicari?
Meri mengaum… aku masih menyendok cendol dan khusuk mengunyah. Pelan.
“ udah dong… nihh…
meri mengambil tentengan belanjaku.. ia menunjukkan tentengan itu dengan bangga ke iman.
“abis ini makan atau mau pulang? sebelum meri menjawab iman langsung memotong
“oi neng.. gue nanya zia bukan lu ye, dimohon mingkem…
Meri kalem menurut, sambil mengunci mulutnya dengan gerakan tangan menarik resleting.
Apa boleh buat, giliran aku menjawab. Gerakan menyendok cendol aku hentikan sejenak. Kesibukan mengunyah aku kurangi dan secepatnya aku telan cendol tersebut. Hap… dengan gerakan penuh ketelitian, dan dengan sangat hati-hati gelas cendol itu kuletakkan diharibaan meja pengunjung toko. Semua menunggu jawabanku, meri harap cemas. menunggu petuahku.. layaknya aku presiden penting sekali omonganku itu.
“pulang” jawabku singkat padat, jelas dan tepat sasaran..
Semua lega, akhirnya jawaban yang ditunggu-tunggu keluar juga.
Aku memberi kejutan
“ iman..“
“ ya… wajahmu berseri, sumringah.. ini jarang terjadi kawan…
“ mudah-mudahan solatmu diterima Allah aku tersenyum” lagi-lagi ini kesempatan langka
Ia mengembang, senyumnya pecah, dan aku melihat seolah matanya berkata “kagaaak nahannn” semua teman-temannya berlaku sama.. dan serempak menjawab…
“ amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnn….”
Aku mengemas semua belanjaan, dan mengamit lengan meri. Pulang…

----------------------------------

Bukan ingin ku jika hatiku mulai mengagumimu, malam ini aku terbangun di sisi tempat tidurku aku termenung, bayangan Iman dengan segenap tinggah konyolnya melintas di mataku, semua memenuhi kepalaku, rencana sholat tahajudku sejenak tertunda. ahaaa… baru kusadari jika ini yang dinamakan jatuh cinta. aku menoleh kekanan kasurku menuju lemari buku, aku malu kepadaMu ya Allah.. mushab itu, kuajarkan iman membacanya. ku ingat bibirnya tumpah, peci yang melorot, suara sumbangnya meruntuhkan karang yang kubangun dihatiku untuknya. aku selalu percaya bahwa iman hanya kujadikan objek dakwah, jika iman kujauhi maka mungkin tak ada peluang untukku untuk mengajak orang berbuat baik, bagiku sikap iman yang tidak bisa mengatakan tidak padaku adalah peluang untuk menuntunnya kepada Allah. aku terlalu percaya diri untuk tidak mengaguminya. walau agak malu harus kuakui iman bukan tipeku. biasa lah cewek berjilbab pada umumnya selalu merasa yang namanya cowok cakep adalah yang pake peci, rajin ngaji, n rajin ke mushola. pokoknya kalo dah pake peci n baju koko wajah nomor dua deh. dan hari ini iman memakai baju koko, ke mesjid dan ngajinya dah lumayan, meski suaranya tetap sumbang.
Aku meraba hatiku, perih antara ideology dan realita tak bisa sejalan nampaknya, aku gelisah, rasa bersalah membuncah sekuat rasa kagum dan cintaku kepada “iman anak soleh” (nama kerennya sekarang di nobatkan secara informal oleh teman se-gengnya),
Terisakku disela sujud, mengadu segenap rasa bersalah yang ada dihatiku, memilih memang sulit, aku memetik lara dan alfa yang kubuat ku urai menjadi bait-bait doa keinsyafanku, aku masih tersedu di sela sujudku, masih dengan mukena terpasang kusudahi tahajjudku aku tertidur di sajadahku yang usang, tangisku reda berganti damai, aku bermimpi aku dan iman berada di atas tebing, tebing yang berbeda, iman berada diseberang sana, aku merasa tempat itu sangat tinggi hanya aku dan iman saja, aku menoleh ke dasar tebing, kurasa jika aku terjatuh maka aku persis seperti nyamuk terinjak gajah, tak berbentuk. dalam jurang itu membuatku ngeri dan tak berani menoleh lagi. aku memandang iman, iman memandang ke arahku, matanya seperti biasa memancarkan cinta anak remaja yang menggelora, namun cahaya mata itu perlahan meredup.. dia berbalik dan menjauh, meninggalkanku tanpa kata sepatahpun, namun sikap dan raut wajahnya mampu membuatku mengerti, bahwa mungkin memang sampai disini. aku juga tak berkata, mencoba mengerti, dan tanpa air mata, namun sebagian hatiku terasa kosong, hampa…
Subuh membangunkanku, aku semakin terisak, “ya Robb.. hamba baru merasakan jatuh cinta… secepat itu engkau memberikan jawaban atas rasa hamba”

-------------------------------------

Sekolah masih sepi, iman yang biasanya telah duduk manis di bangkuku, tiba-tiba tak ada, baru masuk kelas aku telah memandang bangku sepiku, sesepi perasaanku yang mulai rapuh, gontai langkah kakiku menuju bangku, dengan perasaan bercampur, sebuah suara mengagetkanku, mesi dan yeni rupanya teman sekelasku,
“assalamualaikum ya’…. sendiri? boleh ngobrol nggak? yeni menghempaskan tubuhnya dikursi,
“wa’alaikumsalam, aku mengangguk,
“ini soal iman… emm…. iman masih pedekate ya ama zia? yeni bertanya dengan ragu, dan mesi dengan gugup disebelahnya memandangku dengan cemas
“ehm… dulu kita teman se-gengnya iman di SMP, iman emang dari dulu selalu jadi idola, iman memang memiliki semuanya, itu pula alasan yang membuat iman selalu gonta-ganti cewek, sebenarnya iman itu baik, orangnya asik, Cuma kalo dah di ajak serius pasti ga bisa, aku dan mesi adalah salah satu dari sekian banyak cewek yang ingin dekat dengan iman. jujur kita iri dengan kamu zia, kok bisa segitunya iman mengejarmu, sampai tak ada hal lain yang lebih manarik dari pada memperhatikanmu, kita tau kok zia memang beda, mungkin itu yang membuat iman penasaran. tapi kita juga sayang sama zia, takutnya iman hanya seperti dapat mainan baru, ntar zia diperlakukan sama dengan cewek-cewek sebelumnya”
kata-kata yeni dan mesi membuatku termenung, mengapa bersamaan dengan mimpiku, apa Allah sangat sayang padaku, seolah memberiku signal untuk segera bersikap dan memperjelas hubunganku dengan iman, bahwa hubunganku dengannya hanya bisa sebatas teman biasa, hanya teman yang sama-sama mencoba mengingatkan dalam hal kebaikan, tak lebih,,,, aku bingung….
aku masih super bingung, konsentrasi ku buyar meski pak budi guru matematikaku sibuk menerangkan rumus-rumus aljabar, meski mataku melotot ke papan tulis, tapi sumpah aku benar-benar tak sanggup konsentrasi, pikiranku Cuma bisa berfikir tentang seorang iman, tiba-tiba meri mengait lenganku memecahkan pikiran sibukku… dan dengan gerakan menunjuk keluar kelas tepat dibalik pintu kelas. mataku menatap sesosok tubuh dengan posisi bersender ke dinding, tangan dilipat sampai ke dada¸dan tak lupa dengan senyum semanis gula, iman anak soleh menatap tajam terpercaya ke arahku, saat mataku bertatapan dengan matanya ada getar yang menjalar di seluruh simpul syarafku, ku akui aku gugup, dan secepatnya aku menunduk, tak berani menatap lagi, aku tau reaksi iman selanjutnya seperti biasa ia memberikan jempol tanda ucapan terima kasih ke meri, atas jasanya menarik lenganku, iman berlalu dengan senyum mengembang, di sambut suara riuh di kelas, itulah iman, bagaimana mungkin hatiku tak luluh, ia tak pernah sedikitpun mampu membosankan mataku, ia slalu perhatian, sering ku ingatkan agar jangan sering-sering keluar kelas ketika sedang belajar, hanya untuk melihatku, itu mengganggu konsentrasiku, sebab kau selalu manggil-manggil, itu sangat mengganggu dan memalukan, biasanya dengan tenang ia menjawab “abis kangen… dak bisa ditahan..” wajahnya memelas sok polosnya yang bertingkah seolah putri malu. ihh… norak deh pokonya. sekilas ku pandangi wajah mesi dan yeni, ku lihat ada luka disana. aku meranggas..

--------------------------------------

Aku menendang kerikil yang berseliweran di jalan setapak dekat rumahku, pikiranku bimbang dan melayang, masih sama saja topiknya “iman anak soleh” aku sedang mengingat, menimbang, dan ingin membuat sebuah keputusan, hatiku sibuk sidang sengketa, terdakwa adalah perasaanku, saksi adalah pikiranku, tim pembela adalah memori yang menyimpan perhatian iman kepadaku, tim penuntut adalah ideology dan prinsip hidupku sendiri, aku benar-benar kacau berperang dengan diriku sendiri, kadang mesi dan yeni muncul di slide memoriku, aku tak tega. aku tak menginginkan di posisi sekarang, aku tak ingin melukai impian dan harapan siapapun, tak pernah, aku merasa bersalah. slide berikutnya adalah prinsip hidupku bukankah aku sudah berjanji tak ada hal lain yang boleh aku pikirkan selain Allah, posisi iman telah mengalahkan zikirku, dulu sebelum ada iman, dari bangun tidur hingga akan tidur kembali ingatku hanya zikir kepada Allah, merasa Allah melihat, mau ini mau itu semua slalu terlintas Allah setuju ga ya … tapi sekarang yang ada hanya iman lucu ya, dia lagi ngapain, pasti dia lagi main basket, astagfirullah… aku merasa bersalah. slide berikutnya aku mulai membandingkan cara hidupku, iman hidup glamour, tampan, jago basket, anak mall, hedonis, yang menganggap sekolah sebagai identitas semata dan segenap kepopulerannya, aku hidup pas-pasan, tampang pas-pasan, tinggal di kampung, gaul hanya dengan buku perpustakaan, pikirannya cuma satu gimana menggapai ridho Allah. mengganggap sekolah adalah sarana mencari ilmu maka harus bertaruh dan menggempur hati dan pikiran siang dan malam. tak ada santai, jika begini apa mungkin.. aku bimbang.
Kupandangi wajah emakku, aku merasa menghianati perempuan paling berharga dihatiku itu, ku lihat baju lusuhnya, bau khas getah karet menyengat dari dirinya, ia pulas kelelahan seharian menyadap pohon Karet ratusan batang jumlahnya, mencari rupiah dari setiap tetes demi tetes getah karet tersebut hanya untuk ku si buah hati yang bersekolah tinggi. aku mengelus lengannya dan ingin memeluknya mengatakan aku bersalah, nilai ulanganku merosot tajam, standar nilai enam mengejekku di kertas lusuh itu, nilai yang tak pernah mampir di buku nilai ku, ulanganku, dan latihanku, selama ini aku terbiasa dengan angka sempurna, maka nilai enam bagiku sama dengan nol tak berarti, tak bernilai. inikah yang ku persembahkan untuk seorang yang senantiasa membanggakanku, orang yang jika nyawanya diminta hanya untukku pasti tanpa ragu akan memberikan nyawanya. aku gagal.
Di pelajaran biologi aku di beritahu bahwa setiap manusia akan memasuki masa pubertas pada usia-usia tertentu. cirri-ciri pubertas secara fisik dapat dilihat dari perubahan bentuk tubuh, suara, menstruasi, ada peningkatan hormonal dalam tubuh memicu ketertarikan terhadap lawan jenis, aku meneliti diriku sendiri, benar saja aku mulai berjerawat (jerawat ada akibat dari tidak seimbangnya hormone di dalam tubuh) mulai tertarik terhadap lawan jenis, iman misalnya laki-laki pertama menyentuh dan membuka hatiku, aku tak mampu menolak hukum tuhan terhadapku, yang bisa kulakukan adalah berfikir cerdas dan belajar menjadi bijak. untuk mengatasi gejolak remajaku, aku ingin masa remajaku berarti dan aku ingin membuktikan bahwa pacaran bukan fase hidup yang harus dilalui seseorang, melainkan adalah pilihan hidup.
Aku telah memutuskan perkara sulit dalam hidupku, begitu banyak alasan yang menguatkanku untuk memilih dan menentukan jalan hidupku, semoga keputusan yang ku ambil benar-benar keputusan yang tepat. meski berat namun demi melihat wajah lelah emakku yang beranjak tua, aku siap melakukan hal apapun termasuk, mengalahkan keinganan terbesarku. aku mantap.

--------------------------------------

Pagi sekali aku memulai aktifitas, subuh ini terasa lebih bermakna, aku meminta Allah memudahkan lisanku, memantapkan hatiku, dan memudahkan urusanku, untuk bertemu iman, aku membuat janji bertemu dengannya di belakang perpustakaan sekolah. dia setuju, dan wajahnya berseri-seri ini lompatan besar dalam hubungan kami nge-date itulah makna yang tersirat dibenaknya, ia mencoba menawarkan tempat-tempat yang romantis, menurutnya perpustkaan kurang keren dan masak nge-date pertama Cuma di belakang perpustakaan kan gak oke banget. nge-date pertama dan yang terakhir pikirku, tak sabar rasanya menunggu bel pulang, aku siap
Firmansyah Putra Aryuda alias iman tlah duduk manis di samping kemas, wajahnya dipenuhi dengan senyum, kemas adalah syarat utama nge date beracun hari ini, persyaratan yang sangat dibenci dan tak bisa dibantah olehnya, meski protes dan berusaha membujukku agar kemas disingkirkan, tapi tak bisa. iman akhirnya luluh setelah kuancam pembatalan nge date, ia menyadari aku telah berdiri dibelakangnya setelah ku ucap salam. aku menarik nafas tak tega melihat wajah senangnya yang akan kuganti wajah orang kena stroke atau kelindas truk, atau lebih parah.
Kemas menyingkir, aku dan iman duduk berdekatan namun berjarak, kemas di sogok komik doraemon, agak menjauh beberapa langkah, aku sadar kami tak sendri berita nge-date ini terlanjur hit disekolah, banyak yang berusaha menonton pertunjukan nge-date kami, nge-date anak soleh judulnya. iman senyum-senyum gak karuan, aku menarik nafas, iman memulai pembicaraan.
“Iman bingung mo ngomong apa, tapi beneran deh kaget”
aku tak peduli, aku kosong..
“Iman… perlahan aku memberanikan diri
“iya… “ Iman menjawab selembut terigu…
“Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan Fisik dan Psikis, pubertas dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur delapan hingga sepuluh tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun ini menurut ilmu biologi. Pada masa ini memang pertumbuhan dan perkembangan berlangsung dengan cepat, adalah perasaan ketertarikan antar manusia yang memicu untuk saling memahami, mengerti, memberi, dan kecendrungan untuk saling memiliki.. itu menurut ilmu psikologi, cinta adalah rasa jiwa yang Allah berikan untuk dijaga agar tidak tercampur dengan hawa nafsu hingga Allah membuat aturan yang jelas mengenai hubungan antar lawan jenis di dalam islam. pacaran adalah sebuah konsep yang dibuat manusia untuk saling mengenal tapi nyatanya sering kali disalah artikan sebagai bentuk pelampiasan hawa nafsu.” sampai disitu aku menoleh kepada iman. yang bengong ini adalah kalimat terpanjang selama aku berada disekolah dan mungkin juga bingung jangan-jangan ini belajar tambahan yang berjudul nge-date. amazing..
“Iman…. ?
ia tergagap… “iyaaa…. yaa!
“menurutmu hubungan kita seperti apa, apakah fase yang kita lewati adalah masa pubertas, jatuh cinta, lalu berpacaran? apa arti zia buat iman? aku bertanya sungguh-sungguh
Iman bengong tak menjawab, ia berusaha keras mengumpulkan nyawa yang berserakan karna kaget dengan kalimat panjangku.
aku menjawab sendiri…
“jika semua benar lantas benarkah yang kita lakukan ini telah melampaui banyak hal ?
“Iman jika ditanya siapa orang yang paling ingin aku marah, itu adalah kamu.. kau telah mencuri hatiku, dari diriku, kau telah mengambil waktuku, dan mengisinya dengan semaumu, hingga aku tak bisa berbuat apa-apa, kau mampu membuatku tersenyum, kau telah mencuri diriku dari diriku sendiri.. semua hatiku dikendalikan olehmu, hingga sholatku, belajarku, bukuku, semuanya telah kau rebut dariku. jika sudah begini apa kau masih bisa tersenyum melihatku, masih bisakah kau membiarkanku terpuruk? kau memang hanya iman. iman yang belajar mengaji dan solat kepadaku, tak lebih. mungkin aku yang salah memahami hubungan kita. maaf iman. aku tak bisa memahami hubungan kita layaknya teman, aku hanya seorang remaja yang mengalami masa pubertas, jadi ku hanya ingin semua berjalan baik dan normal saja, aku ingin kau menjadi biasa saja dimataku, ku ingin kau adalah teman yang membuatku selalu ingin menjadi lebih baik di mata Allah, aku ingin nilaiku tak terganggu lagi, ku rasa semua tak akan bisa normal dan biasa saja, jika kita terus menghabiskan waktu bersama”
Aku diam menunduk menyudahi kalimatku, keputusan yang sulit buatku.. namun harus ku buat, harus ku jalani. tak banyak memang remaja sepertiku memahami kehidupan layaknya diriku, tapi aku ada dan tak ingin sia-sia. orang kebanyakan selalu akan memandang diriku adalah orang yang keras terhadap diri sendiri, ambisius, genius, serius, dan us us lainnya. terserah tapi ku ingin iman memahami dan menerima situasiku.
“jika Iman memang pengganggu, maaf, jika iman memang membuat zia terpuruk, maaf. jika nilai zia jatuh hanya karna iman, maaf. tapi iman tak pernah ingin membuat zia begitu, iman sayang sama zia, iman akui iman begitu sayang sama zia, tak pernah sebelumnya merasakan bahagia dan tenang kecuali saat bertemu zia, zia yang ngajarin iman ngaji, zia yang ngajarin iman solat, zia yang buat iman menjadi orang baik, zia yang buat iman belajar kesungguhan, zia yang nularin hal-hal baik ke iman, makasih semuanya. maaf iman hanya menularkan hal-hal buruk ke zia, membuat zia semakin jauh dari Allah, iman tidak paham masalah pubertas menurut ilmu biologi, psikologi, maupun dari segi agama, yang iman tau iman Cuma sayang dan ingin terus berada didekat zia”
Kalimat paling serius yang pernah terlontar darimu yang pernah ku dengar, kalimat itu cukup menyadarkanku bahwa telah banyak kenangan yang kita gores, sekaligus membuatku sadar moment ini akan segera menjadi kenangan juga. kita masih sangat belia, baru kelas 2 SMA, tapi aku merasa kita begitu matang dalam memahami kehidupan ini.
“Senang bisa mengenal zia”
Iman mengakhiri pertemuan kami dengan senyum getir, aku memandang sepasang mata berair milik iman, di pelupuk matanya telah dipenuhi air, namun tak menetes. aku merasa kosong dan hampa, serasa beban beratus-ratus ton telah raib di pundakku, namun kekosongan ini tak pernah mampu membuatku tersenyum lagi. hanya iman yang membuatku berwarna, ia pernah membuatku tertawa dengan tingkah gilanya, ia pernah membuatku marah, rindu, benci, suka, gila, takut, geram, ya dengannya aku merasa lebih berwarna dan hidup, sebelumnya kehidupanku layaknya danau sepi tak berpenghuni, tenang dan fokus. ah… dia belum beranjak aku telah rindu…
Hari dan waktu pun berlalu, iman ada namun seperti tiada jika bertemu kami saling berhindar, jika berpapasan dan terjebak untuk bersama kami saling berpura-pura tidak mengenal, lapangan basket tak mau lagi bersahabat denganku, jika aku menoleh kesana tak lagi ketemukan sosok iman yang berlari dengan pesonanya, bagaimana dengan aku, aku kembali ke rutinitasku, sekolah, mengaji di musola, membantu ibuku, belajar hingga larut, jika keluar main di sekolah aku akan keperpustakaan duduk dibangku yang sama, dan akan meninggalkan ruangan itu jika bel sekolah berbunyi. sepi ya aku merasa sepi, namun aku merasa hidupku kembali menjadi milikku, walau hatiku tetap seutuhnya bukan milikku lagi, nama iman tak bisa terhapus begitu saja.
Meri dan seluruh warga SMA ini merasakan hal yang sama meski semua terlihat baik-baik saja namun semua merindukan saat-saat aku dan iman bersama, semua terlihat indah dan lucu, iman yang selalu muncul di ambang pintu sekolah saat belajar, mengintipku dengan cengiran semanis gula, dan aku yang tertunduk malu, lalu satu kelas berdehem dan heboh. semua menyayangkan, tapi cukup mengerti dan menghormati prinsip hidupku. ada temanku satu kelas yang menemuiku dan menangis mendengar keputusan kami, menurutnya iman sangat menyayangiku jarang-jarang ada cowok cakep yang serius, maka aku adalah orang yang beruntung menurutnya. namun aku telah menyia-nyiakan kesempatan.
Bagaimana dengan iman, iman kembali menjadi biasa, merokok, bolos, dan terakhir ku lihat dia jalan dengan salah seorang adik kelas kami, bahagia betul nampaknya, playboy cap dua cula kembali di sandangnya, tak tahan aku melihatnya begitu hancur, diam-diam saat aku bertemu anton sahabatnya kutanyakan mengapa iman begitu, anton menjawab “dia hanya ingin menjadi lelaki biasa dihatimu, itu yang zia minta kan” dan aku bertanya apa iman bahagia? anton hanya mengangkat bahunya.
Aku menangis, benar… mimpiku memang benar iman, iman berlalu begitu saja, meninggalkanku yang selalu menatapnya. aku menyesal, terkadang menyalahkan diriku sendiri, kadang dihatiku muncul kata-kata “coba dulu tak begini, andai, misal, kalau” kalimat yang paling aku benci. namun itu yang menderaku sepanjang malam, aku serahkan semuanya pada Allah.
Namun siang ini di perpustakan sekolah, menjawab tanyaku, saat aku duduk di tempat biasa, membaca seperti biasa, saat bel istirahat seperti biasa, dengan menunduk seperti biasa, namun ada hal yang tak biasa, hatiku tergerak untuk melihat ke arah pintu masuk perpustakaan yang tepat di depan posisi dudukku, mataku menemukan seorang yang akhir-akhir ini menghilang dariku, dengan pandangan kusut dan redup, ia menatapku lama. kami bertatapan tanpa kata dan senyum, namun perlahan tapi pasti ia berbalik dan melangkah pergi tetap tanpa senyum. flas itu datang lagi kondisi ini mengingatkanku saat meri dan iman berkonspirasi menggangguku, ia tersenyum semanis gula di pintu yang sama. kembali aku menunduk menekuni bukuku, mencoba mengumpulkan serpihan kosentrasiku, namun gagal. iman ku tau kita terluka, kau berusaha membenciku, dan aku membenci keputusanku, aku hanya remaja pubertas yang labil, menurut ilmu psikologi remaja seperti kita selalu labil dan sedang mencari jati diri. namun perasaan peka seorang wanita mampir di kepalaku, dan bergumam ”ternyata ia masih mencintaiku” egois itu lah yang ku rasa.
XXX
“Aku menoleh ke dasar hatiku, meski aku tak beranjak dari tempat dudukku, namun aku merasa letih, letih sekali sebelas tahun berlalu, aku menunggu. tak ada kabar secuilpun tentangmu, seharusnya rasa ini turut menguap meninggalkan selaksa asa yang tlah kukubur. Mengapa semua bayangmu sangat jelas melekat dibenakku, sebelas tahun ku rasa hanya seperti kemarin saja, kau memang memiliki hatiku, kau tlah mencurinya dariku, hinggaku tak punya kesempatan memberikan hatiku kepada orang lain. semuanya utuh milikmu, jika hati adalah lemari yang terdiri dari setiap kotak, maka kotak cinta, kagum, rindu, harap, sayang, suka, yang bercampur cemas, sedih, kecewa, letih, lelah, jenuh, sakit, putus asa, semua kusatukan dalam satu kotak dan kotak itu hanya punya satu nama, nama yang selalu membuat malamku tak pernah lelap karna merindu. kotak itu ku beri namamu. selalu tak pernah berubah dari waktu ke waktu hingga ku beranjak tua. hingga mataku mengabur.
Kini kotak itu tetap sering ku buka, tetap kujaga, kubersihkan dengan air mata, ke seka debunya dengan keyakinan setegar karang, dan selalu ku bungkus dengan do’a. tak mampu sedikitpun ku bisa beranjak melupakan kotak tentangmu. dan nampaknya tuhan membiarkan dan mengacuhkanku, tuhan tak ingin tau. dan tak mau tau. meski aku memohon kepadanya seperti anak kecil minta di belikan permen, semakin ku minta semakin ku dijauhkan, semakin kuat tangisku semakin aku tak diacuhkan. semakin inginku memiliki, sekuat itu juga aku dihindari. entah apa maksudmu Tuhan. letih aku meminta dengan segenap asa yang putus asa akhirnya aku berdo’a “ ya Robb jika ia memang jodohku maka temukanlah aku dengannya, aku akan menunggu, namun jika ia memang bukan untukku maka temukanlah aku dengannya dan yakinkan aku bahwa ia telah bahagia bersama orang lain yang mampu menjaga hatinya, yang mampu membuatnya tersenyum, dan yang mampu mendampinginya menujuMu” setengah rela dan putus asa doa itu ku tutup dengan amin.
Aku ingat kata-kata andrea hirata dalam bukunya Edensor, "Jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apa pun keadaannya."
Ku lihat orang-orang di sekelilingku telah beranjak, hampir tiga jam aku di kafe ini, berkutat dengan masa laluku, kini aku bukan remaja yang labil, aku telah tumbuh dewasa, aku telah menjadi seorang daiyah dan dosen yang sukses, sesuai dengan inginku. kafe ini kafe favoritku, suasana mellow dan elegan. di desain menghadap ke sungai batang hari nan eksotis, mengalir tak peduli dan angkuh. membuat siapa saja akan tertarik memandangnya tapi ia tetap tenang dan mengalir semaunya saja, masih tak peduli. dia seperti aku, dan aku seperti dia. aku yang tak peduli apapun kecuali menunggunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uang Baru yang Sempat Viral Menggunakan Sentuhan modern dan Sulit dipalsukan

Halo teman-teman,  Pernah dengar tentang UPK 75 belum? Oke saya kasih clue sedikit ya, setuju! Tahun 2020 silam, teman-teman di media sosial pada heboh ya meng- update foto uang Rp 75.000; beberapa teman dekat saya pun melakukannya, tapi pada saat itu saya tidak tertarik untuk mengulas lebih lanjut, karena apa? Saya hanya menganggap sesuatu yang viral itu tidak harus latah untuk diikuti. Yap udah bisa menebak ya, saya sedang membicarakan apa? Ya benar saya sedang membicarakan  uang yang diproduksi khusus oleh pemerintah untuk memperingati (commemorative) peringatan kemerdekaan 75 tahun kemerdekaan Indonesia yang kemudian disingkat menjadi UPK 75. Sebagai masyarakat awam, saat itu saya memang mencari tahu sedikit informasi, mengapa pemerintah mengeluarkan uang tersebut, hanya membaca sekilas saya mengambil kesimpulan bahwa uang 75 ribu rupiah yang dikeluarkan pemerintah tersebut (lebih) untuk tujuan koleksi. Alasan saya juga diperkuat setelah melihat perilaku teman-teman yang berhasil

Catatan Hati seorang Auslander (orang asing)

Seorang Auslander menoleh menatap jendela kaca Mendung menghias langit dengan sempurna angin bertiup kencang dengan riangnya pohon kepayahan  ranting berdaun kecil terombang ambing dihantam angin Menyambut  awal musim semi,  seolah menari  semua cabang dan ranting hampir bergerak  menuruti mau sang angin. Dari jendela kaca  mata ku enggan beranjak  melihat pertunjukan alam yang menakjubkan Bulan ke delapam di Negeri asing, menjadi orang asing di tanah asing Sendiri mengeja, tertatih dengan budaya beda mengumpulkan kepercayaan diri  mengumpulkan hangat  dari rasa sepi yang enggan untuk pergi Delapan bulan berkenalan  dengan alam yang angkuh untuk kulitku,  atau kulitku yang angkuh berkenalan dengan mereka entahlah, semua serba belum terbiasa Angin barat meniupkan hawa dingin selalu kadang sulit ditebak,  salju beterbangan seperti memasuki kebun kapas yang luas. Seperti sedang berada di sebuah padang dengan berjuta dandelion,  hamparan putih beterbangan memenuhi ruang mata. Kadang hujan

Review Film Manusia Setengah Salmon Karya Raditya Dika

Well... baru sempat nulis nih, padahal dah niat menulis beberapa waktu lalu, baru kesampaian hari ini, waktu yang berubah begitu cepat, tiba-tiba sore, malam, pagi menjelang lagi, beraktifitas, bergumul dengan tugas-tugas, yang banyaknya melebihi jatah jumlah detik waktu sehari semalam, jadi untuk menyempatkan diri menulis seperti ini, aku perlu strategi khusus meluangkan waktu, menyiapkan secangkir kopi lalu ide-ide itu bermunculan untuk ku tulis di keybord leptop ini, ah menyenangkan yang lain mulai menghilang tak terasa berlalu saja di sampingku di depanku, semua kejadian, aktifitas, suara, diskusi alot guru-guru dan suara tv di ruang guru yang mengalunpun tak lagi menarik untuk ku simak yupp.. aku tlah tenggelam merasa memiliki duniaku, tak ingin di usik. "Manusia Setengah Salmon"  Aku berusaha menebak-nebak alur cerita dalam film itu, salmon yang ku tau adalah ikan yang dagingnya merah, en katanya enak banget he he sering banget ku dengar menjadi menu andalan restoran J