Langsung ke konten utama

Kepompong yang telat bermetamorfosis


KEPOMPONG YANG TELAT    
BERMETAMORMOSIS








Ransel udah siap,
Baju beberapa potong, kaos kaki, jilbab kaos, perlengkapan kecantikan telah siap, layaknya ibu-ibu memeriksa belanjaan sepulang dari pasar, aku memilah satu per satu barang-barang persiapanku, kawan… hari ini aku mau pulang kampung, peristiwa besar harus di siapkan dengan matang,,, setelah ku yakin semua yang kubutuhkan ada, aku memasukkan semua barang tersebut ke ranselku, terngiang kicauan emakku mengomentari kelemahanku yang selalu meninggalkan barang-barangku di sembarang tempat, emakku selalu mengeluh tak pernah ia berharap punya anak gadis seceroboh diriku, menurut hematnya, dia telah berdoa sejak aku masih dalam kandungan bahwa ia meminta dengan tulus, ikhlas kepada Allah ingin memiliki seorang putri yang sejati, yang benar-benar perempuan, paling tidak bakat tekun, teliti, rajin, pecinta kebersihan, dan kerapian, serta memiliki rasa tanggung jawab penuh perihal kebutuhan menu keluarga, yang telah bercokol di jiwa emakku dan nenekku selama ia bernafas, setidaknya sedikit saja menurun padaku, nyatanya hadirnya diriku malah membuat emakku mempunyai bakat baru yakni sebagai komentator, mirip komentator sepak bola di televisi, ribut benar-benar ribut mengomentari akhlakku yang tak pernah teduh dimatanya, apa boleh buat, inilah yang disebut dengan harapan tak sesuai dengan kenyataan.

Sejak kecil aku tak sedikitpun menunjukkan sikap layaknya perempuan, justru sebaliknya sia-sia sudah program memerempuankan diriku, jika disuruh mencuci piring, di jamin jumlah piring di rak akan menyusut karna selalu ku pecahkan, jika memasak bapak ku lebih baik puasa dari pada menyentuh masakanku, jika bermain, aku pasti memilih main bola dari pada main boneka (keeper adalah posisi langgananku kawan) jika disuruh tidur siang sepulang sekolah aku akan mengendap-endap bak garong, kemudian meloncat keluar melalui pintu jendela kamarku dan bergabung dengan sekelompok berandal kecil teman-teman sekelasku menuju lapangan, aku sampai menghitam gosong gara-gara main layangan seharian, setelah puas aku dan teman-temanku akan menghambur ke kali dekat rumahku, menangkap udang, mencari ikan julung-julung, dan berudu adalah menu penutup main siangku sebelum beranjak pulang, tentu disambut emakku di depan pintu dengan siaran radionya sendiri dengan tema menyingkap perilaku anak perempuan jadi-jadian, gratis sedikit cubitan di kupingku, Aku tersenyum mengingat masa kecilku yang sedikit kriminal dan sulit di teduhkan.
Aku mematut-matut diri di depan cermin, merapikan jilbabku, setelah yakin dengan kecantikan diriku, aku kembali memastikan isi ranselku, aku berharap tak ada barang-barang yang kubutuhkan tertinggal dirumah, jika sedikit saja emakku tau, fatal… Kawan fatal sekali akibatnya, maka kursus dan pelatihan kepribadian ala emakku akan menjadi menu utama ku selama pulang kampung, artinya kuping dan jiwaku harus siap menerima ocehanya, tak boleh terlewat sedetikpun. SMS (short message send) dan telepon dari keluarga di kampung bertubi-tubi menyerangku, kalimat rayuan bernada ancaman terus digencarkan melalui telpon genggamku, yang benar saja, meski hanya satu jam aku harus menyetor muka manisku di kampung halamanku, peristiwa pentingkah? Ya penting sekali kawan, saudara sepupuku menikah, di kampungku memang begitu, menikah sama halnya dengan kematian, moment penting yang harus disaksikan oleh semua keluarga, jika tak menghadiri maka akibatnya akan fatal, seumur hidup apapun yang kita lakukan tak di pedulikan orang, aku menyerah, setelah diancam tak di tegur seumur hidup oleh sepupuku aku memutuskan : pulang kampung.
Sebenarnya hari ini aku tak bisa pulang jadwal mengajarku padat sekali, sabtu ini pun aku ada jam mengajar, sekolah baru kelar pukul dua siang ini, dilanjutkan rapat mengenai ujian sekolah yang tidak bisa membuatku tega meninggalkannya, kawan adalah tugasku menjadi pendidik, merancang dan mengatur strategi dalam melaksanakan tugasku, salah satu jalannya adalah melalui rapat ini, aku tidak boleh absen. aku ngomel dalam hati mengkritisi hukum keluargaku turun temurun itu, yang benar saja yang pentingkan doaku, wajahku tak penting lah, kan bukan aku yang menikah, apa ada dalam persyaratan menikah itu harus menghadirkan aku, setahuku yang harus hadir ya penghulu berikut saksi dan wali nikah, bikin repot saja, positifnya, tak apalah orang penting macam diriku, memang nampaknya selalu di tunggu, (buah nangka, buah cempedak, entah iya entah tidak, melayu dot kom)
Suara tasbih yang menjadi ringtone telepon genggamku berdering, aku tak enak hati kekhusukan rapat nan terhormat ini sedikit terusik. Sepupuku mengirim sms.
“Tak balik kau ke dusun, ha aku sumpahi kau tak belaki (tak menikah seumur hidup)” gawat sms dari sepupu ku menerorku kembali, kupingku panas... tak terima dengan terror sms itu,
Enak saja... aku membalas dengan nada tak kalah pedas.
“Jaga bicaramu anak muda, aku balik… Jangan khawatir, sekaligus ku bawa penganten pria mu, ku bungkus sebagai kado… senang kau sekarang kak… buat repot saja.. ku sumpahi kau saat aku menikah kau jadi tukang masak di dapur..” ku edit dan ku baca ulang sms itu, setelah yakin benar-benar pedas, baru sms itu ku kirim,
“kekekekekekekekk…. Bagus lah, tujuanku memang ingin menyiksamu.. ha ha.. ^_______^ “
Sms balasan darinya ku cibir sejadi-jadinya… tak bisa membalas ku diamkan saja dia,
Pukul empat sore, aku buru-buru kabur dari sekolah, aku mencari bus termurah langgananku, selain hemat, naik bus omprengan ada enaknya, tidak begitu ngebut, dan full ac alami, bagiku yang paling menarik adalah para penumpang bus, ibu-ibu kumuh dengan dandanan norak, anak-anak kecil yang ingusan, bapak-bapak yang mukanya selalu kusut mencerminkan kepayahannya sebagai tulang punggung keluarga, anak bujang (lelaki yang belum menikah) yang berpenampilan seperti penyanyi dangdut, mereka adalah bagian dari komunitasku sesama kaum marginal kasta terendah yang telah di akui secara de jure oleh masyarakat di sekitarku, aku suka mengamati mereka, kadang selama dalam perjalanan pulang kami saling berbagi kepedihan dan kemiskinan hidup, keluhan mereka bagiku serupa manuskrip kuno nan berharga, yang membuatku semakin terpacu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana telah termaktub dalam UUD 1945. Kawan, jika seorang guru sepertiku, tak becus mendidik, apa kata dunia? Pantas saja generasi penerus bangsa selama berabad-abad selalu sama, jika pintar ia licik kawan, jika bodoh ya bodoh.
Bus terantuk-antuk meninggalkan kota Jambi, aku menoleh ke jendela kaca, ku perhatikan rerumputan yang menghijau, pohon yang bergerombol dan berbaris, lalu berganti rumah-rumah penduduk lokal, setahuku rumah penduduk jambi jaman dahulu adalah rumah panggung khas melayu, apalagi kota-kota tertentu di Jambi rawan sekali banjir, hampir setiap tahun mengalami banjir, mungkin maksudnya adalah untuk mengantisipasi banjir sehingga rumah panggung bagi orang jambi bukan hanya sekedar kebiasaan namun sebagai kebutuhan, namun seiring perkembangan zaman, rumah panggung itu jarang sekali di jumpai di kotaku ini, telah berganti dengan rumah-rumah modern, hasil asimilasi kebiasaan orang melayu dan rumah bangsa eropa, jadilah seperti sekarang, serba tanggung, tak enak dilihat, unsur budaya telah lunas dimakan zaman, sedikit nasionalisme ku sebagai gadis melayu kampung tergugah.
Di sebelahku duduk seorang lelaki melayu kutaksir umurnya 50 tahun, dengan rambut cepak beruban yang tua, baju dan celana juga tua, dan sendal yang meronta-ronta minta pensiun,, ia menyalakan sebatang rokok, aku kurang setuju bagian ini, aku memutuskan menutup hidungku, dengan jilbab, aku perempuan bercadar sekarang. Ku buka kaca jendela bus seluas-luasnya agar angin segera meraup polusi udara di sekitarku, agaknya lelaki tua itu paham maksudku, ia perasa dan mengerti layaknya lelaki melayu selalu tau dan mengerti perasaan dan maksud orang lain meski hanya dengan sindiran pantun atau raut wajah, kawan… pantun itu rumit penuh peribahasa dan perumpamaan, aku adalah generasi melayu yang terkorupsi perkembangan zaman, meski pantun masih eksis di acara-acara pernikahan anak melayu jarang sekali aku mengerti maksud dan tujuan pantun tersebut, namun aku tetap menyukai rima-rima dan mengagumi kreasi anak melayu dalam berpantun, indah nian.
“Nak kemana, nak? Maaf ya bapak merokok... rasanya kalau tak merokok mulut terasa asam”
“Mau ke bangko pak, disuruh orang tua balik, ada saudara menikah, bapak mau kemana? Tak baik lah pak merokok tu, bapak saya masuk rumah sakit gara-gara merokok,,,” suaraku persis di sumpal kain, tak enak di dengar,
“yah… macam ni lah nak… ingat sakit dak nak merokok, lah sehat lupo... Bapak nak ke bangko, ado rumah anak di situ, nak nengok cucu jugo,,. kau ni sekolah apa dijambi?
Aku terkekeh mendengar pertanyaan sang bapak, ku pastikan ia benar-benar rabun, yang benar saja aku masih sekolah, umurku 26 tahun sekarang, sudah menjadi seorang guru pula, yah ku akui dandananku memang lebih santai memakai sandal jepit, rok panjang, baju bernuansa kotak-kotak, ransel, dan aku memakai earphone untuk mencegah lagu-lagu maksiat masuk telingaku, lagu-lagu bus yang mengudara kebanyakan lagu dangdut koplo yang kadang bernuansa erotis, inilah konsumsi telinga masyarakat marginal dalam bus omprengan ini, semua telah terkorupsi oleh reformasi yang kebablasan, sampai dunia musikpun melangkahi dan meruntuhkan etika masyarakat yang telah hidup bertahun-tahun, di ubah oleh satu kata mujarap yang bernama reformasi, keramat betul kata itu kawan.
“ sekolah saya sudah selesai pak…!! aku mengangguk takzim…
“ooo kuliah dimana sekarang?
“ saya kuliah di unja pak.. juga sudah selesai… !! aku mengangguk lagi..
Ia tak putus asa
“hah lah selesai jugo.. lah dapat kerjo? Kerjo dimana?
Tak menyerah rupanya sibapak.. aku menyerah..
“iya pak udah lama saya wisuda, Alhamdulillah, saya udah tiga tahun jadi guru pak…. Alhamdulillah.. aku tersenyum semanis gula berusaha meyakinkan sang bapak…
“wai.. betul tu… macam anak sekolah bapak tengok, masih mudo nian nampaknyo kau ni… yo lah iyo lah… elok lah tu.. bapak senang ado anak gadis macam kau ni, pakaian kau sopan, cakap kau sopan, jarang anak gadis jaman sekarang macam kau ni, bapak tengok banyak anak gadis jaman sekarang lupa di kain (perumpamaan untuk perempuan melayu yang tidak memakai pakaian yang sopan seperti jilbab dan baju kurung)”
Ia menerawang menyuarakan kegundahanya.. aku menjadi teman curhat yang baik, berusaha mendengarkan keluhanya, sesekali aku memberikan beberapa pendapat yang rata-rata di iyakannya tanpa menyela, ia mengeluh menyoalkan cucunya yang telah beranjak remaja berpakaian minim dan tak mau mengenakan jilbab, dengan orang tua pun tidak patuh, kemudian cerita berikutnya sedikit berat, harga karet yang menurun drastis, beranjak ke politik, pemerintah tak ada yang becus, berputar menuju hukum adat, polisi, tilang, kawin lari, ayam, kambing, kucing, satpol pp, aku berputar-putar dalam keluhannya, kadang aku mengangguk, mata mendelik, bibir monyong, menggeleng-geleng, angguk-angguk, terakhir aku terkantuk-kantuk penutup aku tertidur, wassalam.. cerita berakhir.
Pukul 00.00 tengah malam, setelah 9 jam terjebak dengan cerita ayam, kambing, harga sawit, cucu, pusaran asap rokok, aku dapat bernafas lega, aku menjumpai rumah sepupu ku penuh sesak para bujang gadis dan ibu-ibu kampung mempersiapkan acara dengan sebaiknya, hilir mudik. Jaketku rapatkan menghalau dingin, aku menggendong ransel, aku tertegun sejenak, sebagai orang yang di didik berfikir logis, aku menebak kemungkinan reaksi semua bibi-bibiku, gadis 26 tahun pulang selarut ini, akan sangat bahaya kawan, bibi-bibiku tak pernah mau tau tentang lelahku, memarahiku semaunya saja, sudah menjadi kebiasaan mereka sejak aku kecil,
Malam dekorasi namanya, yaitu malam menghias rumah pengantin, orang melayu kampung macam kami, tak menggunakan jasa even organizer perkawinan untuk mempercantik rumah penganten (orang melayu slalu mengadakan pesta di rumahnya sendiri bukan di gedung), para bujang dan gadis sibuk menyiapkan berupa-rupa kembang yang terbuat dari kertas kreb, warna-warni ratusan jumlahnya teruntai bebas memenuhi dinding dan dek rumah nan indah, semarak, semarak betul suasana rumah pengantin baru dikampung kami, semua bersuka cita menyambut hari nan bahagia itu.
Aku melenggang memasuki kamar penganten, Cuma satu tujuanku menemukan sang calon mempelai yaitu kakak sepupuku yang tukang bikin repot itu, dikepalaku telah bercokol berbagai muslihat jahat, misalnya mengsmack down tubuhnya yang mungil dan kurus, dan tentunya aku sebagai pemenang, atau mungkin menggetok kepalanya pakai palu gada yang ukuranya sekali getok bisa membuat gajah pingsan, atau mungkin mengisi kue tart pengantinnya dengan cabe rawit giling sebanyak setengah kilogram, ahai tak terbayang betapa dower bibirnya besok setelah acara potong kue pengantin itu hua ha ha ha ha ups...
“ahai pulang kau jok, ha ha ha senang betul ku lihat kau sekusut ini, sudah kau bersih-bersih dan makan dulu baru ku ceritakan kisah cintaku..” dia terkekeh kegirangan. Tampangnya norak sekali dengan asesoris ala penganten India, begitulah rupa calon penganten dikampung ku seminggu sebelum hari H, telah bergelantungan asesoris, kalung bergelayut hampir 7 buah, semua jari di penuhi cincin, gelang, anting, rame….
“aku tak mau tau, malam ini kamar penganten ini jadi milikku, kau tidur dibawah, aku yang tidur di kasur.. “ balasku sengit bernada balas dendam,
Dia terkekeh..
Aku memeluknya, tak tau mengapa hatiku begitu haru melihatnya, lunas sudah kejengkelanku yang telah ku latih sejak tadi pagi, dari kecil kami di besarkan bersama, satu SD, satu Madrasah, satu pengajian, satu SMA, banyak cerita yang kami ukir bersama, dia mengajarkan aku banyak hal, mengajariku memanjat rambutan, membujukku mencuri tebu emakku di belakang rumah, mengejar buah mangga, mengejar durian, menyelam, memancing, dan bahkan dia mengajariku menulis surat cinta. Tak tau mengapa aku merasa seseorang akan membawanya dariku, dan dia akan segera menguasai hati kakakku, tanpa menyisakan sedikitpun untukku.
***
Kuping ku telah terlatih sejak kecil, untuk selalu menerima berbagai macam perihal petuah, Mulai dari wejangan, pesan dan kesan, doktrin apapun yang biasa dilakukan orang tua saat anaknya mulai tak sesuai dengan tata aturan yang sudah di buat secara turun temurun di masyarakat melayu kampong seperti kami, adat menjadi pedoman utama, Dalam Membentuk pribadi melayu yang berakhlakul karimah, standar kompetensi yang di tetapkan adalah apabila seorang anak melayu rajin ke mesjid, rajin mengaji sehabis maghrib, memakai kain panjang, berbaju kurung menutup aurat, rajin memasak, menjadi penanggung jawab penuh perihal kebutuhan mulut seluruh keluarga. nah, jika semua indikator di atas telah terpenuhi, maka telah layak dianggap anak melayu kampong yang berakhlakul karimah, maka patutlah dia di jadikan contoh, maka semua tindak tanduknya tak perlu di curigai lagi, Semua yang di kerjakan tak dinilai lagi.
Maka aku adalah bagian dari anak melayu yang sedang terkorupsi oleh budaya modernisasi, hidup di dunia teknologi, kaum terpelajar yang sudah menganggap norma dan adat terkadang hanya mengada-ada saja, tak masuk akal, lalu menamainya dengan doktrin yang hanya menghambat pergaulan, tidak gaul, tidak keren dan kuno. Maka yang terjadi adalah antara pembentukan karakter dan akhlak menjadi PR besar para pemuka adat dan orang tua di kampong kami, dimata mereka kami tumbuh menjadi anak yang buruk perangai dan suka membantah, mengkritisi semua kebiasaan dan adat di kampong kami, akibatnya banyak orang tua yang menyalahkan pendidikan, Inilah akibat dari menyekolahkan anak, yang di dapat hanya anak yang tak berakhlak dan suka membantah, Jauh dari standar kompetensi anak melayu yang telah di tetapkan oleh para orang tua di kampung kami, Kesimpulannya pendidikan itu tak penting, kawan.
Kupingku panas, uwak, bibi, nenek, dan para perempuan tua di kampungku berebutan merecokiku, kenapa pulang selarut ini, tak baik anak gadis keluar rumah dimalam hari, nah kan tak meleset sejengkalpun dugaanku, akhirulkalam kapan kawin… Nah lo, Kalimat terakhir seharusnya membuatku lega, karena kalo sudah kalimat terakhir biasanya mereka akan berhenti merecokiku giliran aku yang angkat bicara. Tapi kalimat itu yang paling ku benci…. Karena setelah kakak sepupuku mengakhiri masa lajang maka aku menggantikan posisinya menjadi wanita lajang paling senior di kampungku, Ya tuhan, akhiri penderitaanku.. buatlah seolah-olah aku tak mendengar mereka, kepalaku sakit seharian di dalam bus mendengar ocehan seputar ayam, kambing, harga sawit, cucu, tak sanggup lagi aku menerima cobaan ini, wanita tua ini tak pernah iba dan kasihan dengan diriku, batinku tersiksa… Daya tahan kupingku melemah, aku kalah dan berlalu dari mereka tanpa perlawanan, Selintas bayangan paling menyakitkan dalam hidupku berkelebat di benakku.
Siang itu aku membuka wall profil fesbukku, ada selembar photo kecil yang di tag seorang teman untukku, aku melototi poto itu dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya adrenalinku menegang... tak salah lagi aku kenal dengan wajah di dalam photo itu, koment di bawahnya membuat simpul sarafku hampir putus, “selamat ya udah tunangan... kapan nih meritnya” aku meledak… seluruh air didalam tubuhku mengalir di satu titik, mataku basah tanpa ku sadari… aku tak sanggup… aku memandang ke semua ruangan, menengadah agar tak ada air mata yang tumpah, aku berharap air mataku tumpah ke dalam dadaku saja, dadaku terlalu sesak, ya aku menangis. Aku menangisi seseorang yang tak pernah ku miliki, yang aku tau cintanya bukan untukku lagi... aku bodoh ya… tapi jika dia tak ada mungkin aku tak pernah tau rasanya jatuh cinta, tak pernah tau rasanya merindu, aku orang yang pathetic, tapi tidak obsesif bagiku mencinta itu adalah irama, cukup ku dengar dan ku rasakan, namun tak begitu menggebu untuk memilikinya, tak perlu dia tau, aku mencinta dalam diam, dengan cinta yang begitu dalam, aku selalu mengingatkan dia agar tak lupa mengerjakan PR, agar segera menghadap guru agar bisa ulangan susulan, meminjamkan buku catatanku agar ia tak ketinggalan materi saat belajar, memberi dia jawaban saat ujian, agar nilainya tak terlalu jatuh. Meminjamkan dia majalah agar dia gemar membaca, dan aku tak perlu memberi tau tentang salah dan benar pada setiap pilihan dalam hidupnya asal pilihan itu membuatnya bahagia aku akan dengan senang hati mendukungnya.
Apakah aku begitu bodoh, kata temanku aku spesies langka, yang hanya ada satu-satunya di dunia, karena ia tau cintaku tak bertepuk sebelah tangan, begitu pula sang arjuna yang juga sangat menginginkanku, mendekatiku, membuatku bahagia, membuatku tersanjung dengan kata-kata mesra, namun secara nyata semua perasaannya tak pernah ku sambut dan ku balas, semua berjalan dengan apa adanya… ya benar aku satu dari sekian orang yang sulit mengekspresikan rasa sukaku, jika aku marah, benci, suka, tak suka, semua tak terlalu terbaca, semua datar. Dia frustasi tanpa kejelasan dariku, mengambang tanpa jawaban, apa mauku tak terbaca. Selepas SMA kami tak pernah bersua, namun ketika aksi coret baju aku menyelipkan kata cinta yang ku tulis dengan kata-kata “Jangan lupa sholat ya” Aku harap kata-kata itu selalu di ingat dalam hidupnya.
Sungguh aku terlalu malu mengakui, bahwa aku mirip tokoh dalam film India, yang sampai mati pun hanya memberi cintanya pada satu orang pria saja. Ironi sekali hidupku ya, Benar kurang lebih aku seperti itu, ha ha tau kah kau, aku ini tak pernah lagi menyukai pria manapun sampai sekarang, bagiku cinta ku hanya satu, dengan begitu bodohnya menunggu dan selalu berharap suatu saat akan bertemu kembali. Temanku selalu membantah teoriku itu, “ cuy.. ente tu bodoh banget yah… kalo tuhan mo kasih ente tumpangan yang bagus, kenapa lo bertahan dengan tetap nungguin taksi yang belum tentu lewat! Aku bergeming. Bahkan tak pernah menghiraukan mereka. Namun sayang, teori dan harapanku menua bersama waktu. Semua tlah menemukan apa yang mereka cari, semua tlah berangkat mengarungi hidup sesuai dengan harapan mereka. Sementara aku… inilah aku yang semakin lelah menunggu, bahkan aku tlah bosan menunggu… aku tak sabar lagi… sekantung harapan yang selalu ku tempatkan di setiap do’a ku pun turut mengempis, Dengan lelah dan putus asa, aku tetap bertahan, namun yang terjadi selembar photo di wall fesbukku telah merampas semua kantung harapanku itu. Aku terpuruk ke tempat yang paling dalam, bisakah sekali saja aku bertemu denganmu... sekali saja bicara kepadamu. Aku tak apa… jika kau telah memutuskan mencintainya, tapi bagi ku kau segalanya… semua bukan salahmu, tapi salahku yang tak bisa menerima laki-laki lain dalam hidupku... entahlah sampai kapan aku akan menunggu… tapi hari ini semua penantianku tlah terjawab dengan hadirnya selembar photo, kau dan dia sedang bertukar cincin tanda pinanganmu padanya… aku terduduk lemas.. tanpa daya.. semua air mataku mengalir tanpa ku minta… aku menengadah.. semua membayang di pelupuk mataku, semua tersimpan begitu jelas, setiap menit, detik, yang ku lalui bersamamu terasa begitu nyata, seakan baru saja terjadi, padahal tanpa sadar tlah 8 tahun berlalu.
***
Usai pernikahan kakakku, kami duduk bersama di kasur pengantin miliknya, seraya memandangnya, aku tak henti-hentinya bertanya di dalam hati, apa rasanya menjadi pengantin? menikah dengan orang yang kita sukai, ketika dia berikrar di depan manusia dan tuhan akan menjagamu sampai kapanpun, apa rasanya? Ketika kau bangun di pagi hari dia terlelap disebelahmu dengan bahu yang kokoh, yang akan menguatkanmu dari apapun bentuk kesedihan, yang akan memahamimu lebih dari siapapun bahkan lebih dari dirimu sendiri. Kakakku agaknya paham akan galauku, dia menggenggam jemariku,
“Jika memang dia untukmu, dia akan menujumu, bagaimanapun sulitnya, dia tak peduli seperti apa kau sekarang, dia akan datang tanpa kau minta, apa kau masih menunggunya? Semua keputusan ada padamu, kau bisa membaca situasimu, jangan terlalu keras kepala, dan yang paling penting jangan melupakan seseorang yang sudah di takdirkan untukmu! Keras kepala… ia menggetok kepalaku pelan.
“aku akan belajar melupakan dan menerima kenyataan, aku siap untuk hidupku!” aku lirih tak yakin dengan ucapanku. Menunduk.
“ku harap aku segera melihatmu menjadi pengantin, aku sendiri yang akan memakaikan inai di jarimu… segera lah membuka hati untuk menerima seorang yang siap memintamu”
***
Matahari pagi begitu ramah, membuatku ingin bersepeda keliling kampungku, seperti waktu ku kecil dulu, yah itung-itung bernostalgia lah, aku merapatkan jaketku, tak lupa earphone turut ku pasang, melengkapi acara bersepeda ria, tralala tralili bersenandung riang, menyusuri pebukitan di selingi rumah-rumah penduduk, berganti mesjid, riuh pesepeda dan pejalan kaki warga kampungku hendak ke ladang atau ke kebun karet mata pencarian mereka memenuhi mataku, Kadang aku melambai tanganku, kadang tersenyum ramah, kadang harus berhenti sejenak, biasa mengobrol dengan ibu-ibu kampong yang sudah punya penyakit akut yang namanya senang ngobrol, aku bahagia menyapa mereka, hangat itulah yang kurasa, rasa yang sulit kutemui jika ku kembali ke tempatku bekerja. Kota.
Aku berhenti di tempat uwak ku yang kebetulan membuka warung kopi kecil, aku sudah tak sabar ingin segera bertemu goreng pisang favoritku, uwakku seperti biasa tetap ramah kepada siapapun, di situlah daya megis warung kecil ini sehingga tetap bertahan puluhan tahun lamanya, konon abangku tertua masih ingusanpun warung kecil ini sudah eksis, ada sesuatu yang menarik. Kawan lamaku, saat aku masih SD dulu, sebenarnya bukan hanya kawan lama, sepupu jauhku ini juga orang yang senantiasa menggendongku pulang ke rumah jika aku menangis tak terima saat kalah main petetan karet gelang, ia akan membujukku. Umurnya lima tahun lebih tua dariku, bagiku saat itu Dia pelindungku. Sekarang lihatlah dia, gagah dengan seragam bela negaranya yang loreng-loreng itu, aku tersenyum, hampir saja aku melewatkannya, untung saja ia tetap mengenali wajah manisku, he he…. Selepas SD abangku sekeluarga pindah ke luar kota, Semenjak hari itu aku tak pernah bertemunya lagi hingga hari ini, semua kabar tentangnya hanya terangkum lewat berita dari orang-orang kampong sesekali saja. Bahkan aku hampir melupakannya.
“abang kapan balik? Hem… abang jauh berubah ya dulukan abang kurus sekali,” aku tertawa renyah sembari menyelidikinya.
“Saat pesta tu abang dah nengok lah, semua keluarga termasuk adek,,, segan rasanya abang negur,, adek lah besak nian” Abangku menyumpal pisang goreng berikutnya ke tanganku.
“Ha ha kok dak negur-negur bang? Sombong nian lah… adekkan dak Nampak… mano ni bang kakak iparku kok belum di kenalkan dengan adekmu ni… aku melahap pisang, ludes.
Ia tersenyum, melihat ulahku,,, katanya yang berubah dariku hanya bertumbuh besar saja, semua kelakuan, kebiasaan, dan wajahku tak berubah sama sekali, tetap terlihat “semau gue” katanya, cerita berikutnya lebih heboh dari yang kubayangkan sebelumnya, mengalir lah untaian episode masa kejahilihan waktu ku masih berandal saat SD bersamanya. eTawa berderai di sela-sela gorng pisang dan kopi manis buatan uwakku. Seakan kami berdua saja yang berada di sana.
Xxx
Abangku, tetaplah abangku aku mencintainya, menyayanginya, dan juga sangat mengaguminya, bagiku dia adalah pahlawan, dia penyelamatku, dan posisi itu tak pernah bias tergantikan dengan apapun. Masalahanya dari awal pembicaraan dan kasak-kusuk di pesta pernikahan kakakku, aku telah mendengar berita perihal perjodohan itu tak kusangka lelaki yang dijodohkan denganku itu adalah abang sepupu jauhku itu, yang tlah bertahun-tahun lalu ku angkat menjadi pahlawan dalam hidupku, rasa yang ada untuknya bukan rasa cinta seorang wanita kepada pria, aku tak bisa mengubah hatiku untuknya. Aku menangis tak berdaya, bagaimana ini aku takut jika aku menolak maka tak ada lagi pahlawan dalam hidupku, jika aku menolak hubungan antara keluarga kami tak mungkin bisa seperti semula, peluangku untuk memilih benar-benar rumit, satu-satunya harapanku adalah abangku juga menolak perjodohan ini, ah aku tlah muak dan lelah di jodohkan jadi bagiku kata-kata di jodohkan, di pertemukan dan di comblangi, atau apalah namanya, tak ada gregetnya sama sekali di mataku, semua yang muncul di kepalaku hanya seuntai kalimat “kasian, siapakah lelaki berikutnya yang kurang beruntung itu? Kasihan sekali bila dia di jodohkan dengan ku! Kenapa kalimatku sampai begini, hal ini mengingat peristiwa perjodohan sebelum-sebelumnya kawan. Begini ceritanya…
Perjodohan pertama,
Aku masih SMA, pada saat itu tujuan hidupku di dunia ini insyaallah hanya untuk Sekolah tinggi dan pandai mengaji, emakku seperti halnya emak-emak lain di kampungku jika mempunyai anak gadis maka emak-emak keriput tersebut mempunyai kebiasaan unik sejak dini mulai menjadi inteligen perihal jodoh putrinya sekitar 5 atau enam tahun mendatang, maka yang keranjingan masalah info dan gossip seputar anak bujang, dan yang paling mengenali mereka adalah para emak-emak, aneh memang! Sementara aku yang masih ingusan itu hanya mesem-mesem tak jelas saat emakku berusaha menceritakan hasil survey nya selama ini, pria A sampai Z, dari kategori Amat baik, Baik, Kurang baik sampai Tidak baik pun lengkap tak kurang satu apapun jua, jujur dalam hatiku begitu salut dengan emakku, berdasarkan komik conan yang sering ku baca emakku sangat berbakat menjadi seorang detektif, semacam inteligen, atau sejenisnya lah.
Aku berjuang keras menjelaskan misi dan cita-cita dalam hidupku dengan emakku, berharap emakku mengerti aku tak ingin segera menikah aku hanya punya cita-cita sederhana, sesederhana penampilanku, aku kelak hendak bersekolah tinggi, hendak bekerja sebagai seorang guru, hendak menghapal Al Quran, jadi jika sekarang aku telah di sibukkan perihal laki-laki, maka cita-cita muliaku itu tidak akan terwujud, emakku manggut-manggut tanda mengerti. Aku senang… selang sepersekian detik emakku mengerjap-ngerjap, dan berkata….
“kau tau si pendi? Ponakannya bu sarinah yang guru SD itu, ha.. anaknya baik, kemaren petang aku di antar nya pulang pakai motor, ku rasa dia cocok untukmu…..”
Huah….GUBRAKKKKKKK…..
Sore itu, Pendi mampir ke rumahku mengantar sedikit makanan ringan yang di kemas dalam keranjang kecil, aku sendiri yang membukakan pintu untuknya, dia memerah dan sedikit gemetar saat aku menatap mata hitamya dengan sadis, dan merampas keranjang miliknya sebelum berlalu aku sempat mengangkat telunjukku sebatas leher dengan sedikit gerakan menebas leherku dengan garang, Kemudian aku memanggil emakku, dan berkata “ emakk…… di cari pendi tuh…… “
Belum sempat emakku keluar, pendi kabur… terkikik-kikik seperti hantu dalam film Indonesia jika dibacakan ayat Qursi… LOSER….
Perjodohan ke 2
Saat itu perkuliahan ku sangat padat, saat tugas menggunung, saat tanggung jawabku sebagai staff ini, pengurus itu, ketua ini, ketua itu, (saat itu aku mengikuti 4 jenis organisasi sekaligus sebagai pengurus) saat aku terkenal dengan sebutan angkatan 66 di kampusku (pergi jam 6 pagi, pulang jam 6 sore mahasiswa seperti ku ngetop dengan sebutan KURA-KURA – kuliah rapat-kuliah rapat), sehabis pengajian rutin, murobbi ku (guru mengaji ku di kampus dulu) menyelip sesuatu di kantungku, seperti sebuah amplop, dia membisikkan sesuatu “jangan lupa istikhoroh ya… “
Kacau… pikiranku semuanya kacau, apakah ini waktu ku??? Aku tak berani menyentuh amplop itu, ku biarkan saja di atas mukenaku tersimpan rapi di dalam lemari pakaianku, di atas sajadah itu kuteteskan airmata kelelahanku, ketidak siapanku, aku istikhoroh dengan khusuknya, aku malu di hadapanNya, aku malu menyatakan ketidaksiapanku… tadi siang aku tlah di bekali dengan materi-materi seputar munakahat, salah satu pointnya yang pasti ku ingat “tak ada alasan menolak seorang yang shalih yang datang memintamu” tapi aku benar-benar tidak siap, jujur saja hatiku masih menyimpan harap kepada seorang dari masa laluku di SMA, aku belum sepenuhnya bisa menerima laki-laki lain, walaupun secara teori aku sangat paham hukumnya, namun aku masih berproses, inilah aku… aku malu sekali di hadapanNya, terisak di penghujung malam nan sunyi, aku tak berkeinginan sama sekali membuka amplop itu, keesokan harinya aku menyerahkan amplop utuh itu kepada guru mengajiku, aku kembalikan,,, bukan karena aku terlalu sombong tapi semata-mata ketidaksiapanku, semata-mata karena aku merasa tak pantas mendampingi lelaki shaleh itu, karena hatiku telah terbagi, aku tak selayak Fathimah yang hanya mencintai Ali sang suami seumur hidupnya, aku hanya lah aku manusia yang mencoba menjadi muslimah sesuai tuntutan islam…. Namun adalah salahku jika hatiku masih tak bisa ku ajak kompromi, perasaan itu hanya pernah ada untuknya, seseorang yang sangat aku inginkan melebihi dari apapun, meski tak pernah ada kata pasti, namun ku yakin aku pernah menjadi bagian dalam episode hidupnya, sedikit benang kusut dalam hatiku mulai terurai…
Perjodohan ke 3
Haik… Aku benci dengan lelaki to the point, aku di tembak di tempat (tapi tidak mati) ha ha, pria sekampus dan seangkatanku tapi beda fakultas, perokok, berandal, urakan, tapi ku akui cukup cakep (hua ha ha ). Aku tak tau persis kapan dia mulai mengenaliku, apalagi menyukaiku, aku yang tomboi, slebor, Cuma punya beberapa helai baju kuliah, tak pernah ber make up, buta sama sekali tentang kecantikan, di tasku menggunung tumpukan buku-buku perpustakaan, mukena, sandal, dan aku yang selalu Nampak di kejar-kejar kantib jika berjalan, tergesa-gesa dan selalu menunduk selalu tepat sasaran dan hemat waktu dan berjalan dengan speed rata-rata 180 km/jam. tak ada manisnya sama sekali, tak ada keanggunan yang tercipta.
Nah, percaya tak percaya siang ini aku di tembak, di cegat di samping mushola, ketika hendak berwudhu mau melaksanakan sholat dhuha, aku melongo.. tampang bego ku keluar..
“aku mau ikut pengajian apapun, aku sanggup berhenti merokok, tapi jadilah istriku..”
Kiamat…. Tembakannya membuatku tak bisa bernafas dan nyaris mati kebingungan, sempat aku menoleh ke kiri ke kanan, depan belakang, atas bawah, siapa tau bukan aku objek dan sasaran pria berandal di depanku ini.
“maaf…. Situ ngomong sama saya? tanyaku meyakinkannya
Pria ini ku temukan saat kami menjadi panitia di kegiatan bakti sosial BEM KBM Unja, saat itu kami sesama panitia Baksos sedang mengadakan bantuan pakaian layak pakai untuk korban Banjir di daerah Jambi luar kota, tak ada yang istimewa perbincangan kami, hanya seputar kampus, beberapa persiapan baksos, sedikit berantem, ya paling adegan sedikit romantis hanya saat aku membagikan nasi bungkus untuknya itupun karena aku merangkap jadi seksi konsumsi, ku rasa tak ada sedikitpun alasan untuknya menganggap semua kelakuanku terlihat manis, sederhana biasa. Walaupun setelah baksos interaksi diantara kami tetap terjalin, tapi ku rasa hanya sebatas itu saja, say hello, apa kabar, oke, saya duluan, itu saja, basa-basi antara sesama mahasiswa yang pernah satu kegiatan bareng. Ga pernah satu organisasi apalagi satu visi dan misi, perbedaan paling nyata ku lihat adalah dia dari UKM MUSIC yang selalu nyentrik yang selalu menganggap dunia ini adalah panggung sandiwara, mabok, bikin rusuh, so mereka semua bikin repot anak-anak rohis untuk mengajak anak-anak kampus yang imanya sangat kritis untuk segera bertobat.
Aku bergidik ngeri... dalam hati ku berkata “susah ya terlalu banyak Fans”
“pernah memikirkan keputusan ini sebelumnya?aku berusaha meyakinkan dia bahwa yang dia katakan tadi hanya kekeliruan semata
“ya… aku sudah membicarakan semuanya, orang tua ku mengizinkan aku kuliah sambil menikah, lagian aku tinggal skripsi saja, aku kerja kok, masalah keuangan, kamu jangan khawatir”
Sesederhana itu masalah menikah baginya….
Mengandalkan hasil kebun orang tuanya, ditambah dari usaha warnet miliknya sendiri, dia yakin bisa menghidupi dan membiayai kuliahku, baginya aku adalah orang pertama yang paling diperhatikannya, saat pertama kali ketemu sebagai mahasiswa baru, kemudian aktif di organisasi, semua kegiatan dan sepak terjangku selama di kampus selalu di pantaunya, yang menjadi kekhawatiran baginya adalah satu-satunya kabar burung mengenai seorang pria shaleh kakak tingkatnya hendak melamarku (belakangan aku tau pria shaleh itulah yang amplop biodatanya ku kembalikan kepada guru mengajiku), inilah alasan terkuat ia berada di depanku saat ini. Aku terkekeh mendengar alasanya melamarku, aku bertanya kembali pada sang pemilik hati, berurai air mata di tengah malam buta, berharap Dia memberi sedikit kekuatan padaku untuk memilih, guru mengajiku berkata “pria yang bisa di jadikan imam (suami, red) yang dapat memimpin kita dunia wal akhirah adalah pria yang bisa menuntun kita ke jalan Allah, yang memperkokoh perjuangan kita dalam berdakwah, pria yang dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya, yang dapat menjadi tempat belajar, penguat keimanan kita di kala lemah”, teman-temanku bilang menikah bukan perkara seberapa ganteng, seberapa kaya, or seberapa pintarnya sang pria tapi perkara kecocokan, bisa tidak saling menerima kelebihan dan kekurangan pasangan kita. (apa aku bisa jika nanti dia tertawa terbahak-bahak dengan semua teman ngumpulnya, kepulan asap rokoknya, jeans belelnya, rambut panjangnya, gimana kalau begini, kalau begitu)
Setelah mengingat, menimbang, lalu ku putuskan, pria berandal bukanlah imam yang baik, kesimpulannya “ Maaf aku belum bisa”
xxx
Perjodohan ke 4
Karena risau melihatku masih melajang lela terus, keluarga memutuskan untuk memperkenalkan seorang pria yang menurut informasi cukup baik,
Perkenalan di lakukan di rumah uwakku,
Saat pertama bertemu, agak kikuk, melihat pria berdandan super klimis, bersih, tak sehelaipun jenggot dan kumis bertengger di wajahnya yang mulus tanpa jerawat, keperhatikan jemarinya yang imut dan bersih, kuselidiki gaya bicaranya yang teratur dan sangat lembut, sekilas aku menyimpulkan inilah pria idaman wanita pecinta kerapian dan kebersihan, tidak minum kopi, tidak merokok, (agak pendiam, karena dari tadi aku pelototin) Singkat kata 3 hari kemudian aku mendapat kabar si pria klimis itu telah memutuskan aku bukan orang yang tepat, im free now…
Pria ke 5
Terlalu tua
Pria ke 6
Dari awal bertemu selalu bergumul dengan asap rokok, tak henti-hentinya memaki pemerintah, menurutnya hematnya tak ada yang becus mengurus Negara tercinta ini, sibuk ber orator dengan semangat 45 tentang perpolitikan tanah air. Hampir saja aku berteriak sekencang-kencangnya “ MERDEKAAAA….”
Di dekatnya selalu ada hawa ingin bertempur, bagiku setiap berbicara dengannya di matanya aku adalah musuh besarnya”
Aku terbirit-birit tak sanggup berhadapan dengan pria “Merdeka ini”
Pria ke 7
Menganggap, menganut paham para lelaki tempo doloe, fanatisme berlebih-lebihan alias ortodok bangget… dia meminta ku untuk tidak keluar dari pintu rumah, hidup hanya untuk mendidik putra-putrinya, bercadar, dan tinggal di pesantren.
Oh my god.. tak ada yang salah Cuma aku tak bisa hidup dalam pemahaman yang begitu picik, aku membantah teorinya
“Fatimah bekerja, dia sendiri yang mengolah gandum, menggiling hingga sampai menjadi makanan bagi suaminya dan anaknya, sahabiah juga ada yang berjihad, ini menandakan aktifitas ibadah perempuan bukan hanya sebatas mengurus suami dan anak-anaknya, tapi begitu banyak pintu ibadah yang dapat dilakukan oleh perempuan muslim”
Kesimpulan: perbedaan pemikiran dan prinsip hidup tak dapat di satukan dalam pernikahan. Maka tak ada kabar selanjutnya.


Pria ke 8, pria ke 9 hingga aku bosan, bosan menghitung pria yang datang dan di perkenalkan padaku, aku selalu tak bisa membuka hati untuk pria manapun, tak ada yang salah jika aku bisa sedikit saja mau memahami, sedikit saja mataku terbuka untuk menerima kekurangan orang lain, ku akui hatiku terlalu enggan untuk menerima kehadiran orang lain dalam hidupku, semua karena hatiku telah ku berikan hanya untuk satu orang saja, aku pernah membenci diriku, keegoisanku, dan menyalahkan dia (pria masa lalu ku itu, masih ingatkan kawan, ah masa lupa) setidaknya dia adalah seorang pria, datanglah aku akan segera menyambutmu, datanglah aku telah lelah menunggu,,, aku memandang jerajak hamparan ilalang di sepanjang jalan di kampungku satu persatu ku lewati, tiba-tiba hatiku begitu sesak, alunan kerinduan menggema dalam ruang hatiku, kerinduan pada sebentuk hati yang ingin ku miliki, kerinduan akan sebuah tatapan yang membuatku merasa malu, ah wanita sekali rasanya, aku di depannya, aku merasa cantik, merasa menjadi seorang putri di film Barbie,dan Abangku ? ku rasa aku tak bisa merasa seperti itu di hadapannya, di matanya aku merasa hanya seorang adik kecil yang menangis minta di ambilkan buah jambu kesukaanku, minta di buatkan layangan, dan menangis, mengadu saat aku di jahili temanku. Tiba-tiba ruang pekat di kepalaku kian bertambah pekat, aku ingin mengadu, ingin berbagi, setidaknya kebiasaan burukku untuk selalu sok kuat dan mandiri dalam menghadapi apapun itu runtuh berserakan, ibarat batu bata yang disundul om Mario Bros hanya dengan kepalanya, jatuh berserakan tak berarti, semua sok kuat dalam diri ku menghilang, aku butuh orang untuk “nyampah” membuang semua kegundahan, ketakutan, kebodohan, keegoisan, dan kesialan hidupku (contohnya selalu direcoki oleh para emak-emak tua di kampungku) plisss.. help me…
Kepalaku sibuk mencari referensi orang yang bisa (siap lahir bathin) menjadi sasaran “tong sampah” perasaan ku, nama-nama orang-orang aneh, terscanner dengan rapi muncul di kepalaku, ibarat searching di gugel, semua data tersebut lengkap, dengan segala informasi yang membuatku bisa menebak semua kemungkinan dapat menyelesaikan masalah hidupku yang menurutku masalah remeh temeh tapi sangat menganggu itu, ibarat jerawat batu yang tumbuh bertengger manis di ujung hidung yang lagi meradang karena flu berat, kebayang ga betapa ekstrem bin menjengkelkan tu jerawat, kepuasaan saat menghapus ingus jadi terhambat, lalu kesempatan untuk ber “bersin” –bersin ria sambil balas dendam dengan para kuman yang seenak jidatnya (emang kuman punya jidat) mengutak-atik hidung kita tanpa tau malu.
Semua “blank” nama-nama yang di sodorkan hardisk kepalaku tak ada yang memenuhi persyaratan curhat ku, kesimpulanku tak ada pilihan lain kecuali berdialog langsung dengan abangku, berterus terang padanya, apa adanya, seperti selalu ketika kecil dulu, apapun aku tak pernah lelah bercerita padanya, tentang apapun. Meski kemungkinan yang paling aku takutkan bisa saja terjadi, tapi apa salahnya mencoba.
Xxx
Ku pilih tempat paling nyaman, aku duduk di depan abangku, lapangan bola tempat nongkrong sewaktu kecil dulu, masih seperti dulu, rumput dan ilalang masih menjadi bagian tak terlupakan, sore ini sepupu ku yang banyaknya hampir 2 gross jumlahnya itu, bertanding di lapangan ini dan aku memilih menjadi pendukung fanatic mereka. menurut ku saat ini waktu yang tepat untuk berdiskusi dengannya, suasana santai dan penuh rasa persaudaraan akan mengingatkannya bahwa aku ini adalah benar-benar hanya cocok untuk di jadikan adik saja, tak lebih.
Permainan dimulai…  fluit berteriak kencaaang sekali..



Aku sudah mengikhlaskan semua tentangmu, aku telah bersayap kini.. aku tak lagi seekor ulat  yang tak berdaya dalam sebuah cangkang terkekang yang bernama kepompong, tapi aku.. kini aku telah menjadi seekor kupu-kupu indah yang siap mengepakkan sayap indahku, siap terbang menghinggapi setiap bunga-bunga dan daun, aku siap meninggalkanmu, karena ku tau kau tlah lama terbang meraih semua hidupmu, dan ku tau kau menemukan hidup yang kau inginkan, aku bahagia sungguh aku bahagia tanpa beban,,, aku tlah merenungi aku tlah belajar selama bertahun-tahun ini, aku tlah bersemedi menunggu saat ini, menunggu saat aku mengerti dan menerima semua takdir dalam hidupku, kini aku adalah seekor kupu-kupu yang tersenyum dan tersipu… ah.. lama… lama sekali aku belajar memahami… maafkan aku orang yang kelak mendampingi hidupku, maaf telah lama membuatmu menunggu, aku orang yang hanya belajar memahami, si keras kepala yang di luluhkan oleh waktu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uang Baru yang Sempat Viral Menggunakan Sentuhan modern dan Sulit dipalsukan

Halo teman-teman,  Pernah dengar tentang UPK 75 belum? Oke saya kasih clue sedikit ya, setuju! Tahun 2020 silam, teman-teman di media sosial pada heboh ya meng- update foto uang Rp 75.000; beberapa teman dekat saya pun melakukannya, tapi pada saat itu saya tidak tertarik untuk mengulas lebih lanjut, karena apa? Saya hanya menganggap sesuatu yang viral itu tidak harus latah untuk diikuti. Yap udah bisa menebak ya, saya sedang membicarakan apa? Ya benar saya sedang membicarakan  uang yang diproduksi khusus oleh pemerintah untuk memperingati (commemorative) peringatan kemerdekaan 75 tahun kemerdekaan Indonesia yang kemudian disingkat menjadi UPK 75. Sebagai masyarakat awam, saat itu saya memang mencari tahu sedikit informasi, mengapa pemerintah mengeluarkan uang tersebut, hanya membaca sekilas saya mengambil kesimpulan bahwa uang 75 ribu rupiah yang dikeluarkan pemerintah tersebut (lebih) untuk tujuan koleksi. Alasan saya juga diperkuat setelah melihat perilaku teman-teman yang berhasil

Membuat pizza enak, murah, cocok di lidah orang Indonesia dan Anti Gagal (bahan-bahan yang digunakan dalam bahasa Jerman)

Pagi.. Entah bagaimana caranya supaya sarapan pagi bisa lebih variatif, bosan banget tiap hari makan roti tawar dengan olesan marmalade, atau nuttela, atau nasi goreng. Aku yang tinggal di Jerman ini, tentu lebih pusing sedikit, sepertinya budaya Jajan dan beli sarapan pagi sudah lama aku tinggalkan, semua makanan yang di inginkan harus dibuat sendiri. Ada banyak faktor untuk tidak membeli Jajan, pertama faktor kehalalan, kedua faktor mahal, ketiga rasa yang kadang tidak  sesuai dengan lidah orang Asia. Terpaksa jadi berguru dengan cookpad dan youtube, lalu menyesuaikan dengan ingredient yang ada. Berkali-kali gagal, berkali-kali buang adonan, berkali-kali juga harus mencoba, akhirnya aku menemukan resep yang pas, cepat dibuat, bahannya simpel, dan enak. Sekarang aku mau membagi resep pizza anti gagal dan membuat dough pizza tanpa harus lama, hanya 10 menit bisa membuat pizza tuna mehl, cocok untuk sarapan pagi yang super buru buru. Mari kita coba! Bahan-bahan (ingredient) dought pizza

Catatan Hati seorang Auslander (orang asing)

Seorang Auslander menoleh menatap jendela kaca Mendung menghias langit dengan sempurna angin bertiup kencang dengan riangnya pohon kepayahan  ranting berdaun kecil terombang ambing dihantam angin Menyambut  awal musim semi,  seolah menari  semua cabang dan ranting hampir bergerak  menuruti mau sang angin. Dari jendela kaca  mata ku enggan beranjak  melihat pertunjukan alam yang menakjubkan Bulan ke delapam di Negeri asing, menjadi orang asing di tanah asing Sendiri mengeja, tertatih dengan budaya beda mengumpulkan kepercayaan diri  mengumpulkan hangat  dari rasa sepi yang enggan untuk pergi Delapan bulan berkenalan  dengan alam yang angkuh untuk kulitku,  atau kulitku yang angkuh berkenalan dengan mereka entahlah, semua serba belum terbiasa Angin barat meniupkan hawa dingin selalu kadang sulit ditebak,  salju beterbangan seperti memasuki kebun kapas yang luas. Seperti sedang berada di sebuah padang dengan berjuta dandelion,  hamparan putih beterbangan memenuhi ruang mata. Kadang hujan