Langsung ke konten utama

Memaknai ujian sekolah

well, im coming...
Bentar lagi ujian semester, yah masih seperti biasa, berkutat dengan rutinitas sebagai pendidik generasi bangsa. banyak keluhan dari siswa mengenai ujian semester, jangan kan ujian semester ulangan harian saja menjadi momok yang menakutkan bagi siswa, hem... jika di runut masalahnya adalah berawal dari kebiasaan sih, coba kalo jaman dulu masyarakat kita membiasakan ujian adalah perayaan, mungkin sekarang secara psikologis kita lebih siap menghadapi ujian apapun. yah... setelah berfikir lebih jauh dan mencoba sharing pendapat dengan para siswa, sedikit ada benang merah, sebenarnya bukan takut pada ujiannya tapi lebih kepada persiapan ujiannya yang lebih membutuhkan energi, waktu, dan mental. aku manggut-manggut tanda mengerti, kalo begitu yang perlu di evaluasi adalah cara. selama ini terdoktrin bahwa "Belajar lah dengan tekun karena sebentar lagi kita akan ujian "(salah sendiri sih.. belajar hanya pada saat ujian datang, seharusnya kan Belajar itu sepanjang waktu, jika belajarnya sepanjang waktu ga pake embel-embel karena ujian. yakin deh ga bakal ada yang takut ujian apapun. karena persiapan belajarnya kan sepanjang waktu. ya Nggak) sekedar Evaluasi bagi para pendidik, konon para pendidik yang sering di panggil pak atau bu guru, ustad/ustadzah, mom n mister, atau apalah merupakan orang yang paling di dengar setiap perkataannya, baik secara sadar maupun tidak sadar oleh para siswa. kadang penerimaan dan pemaknaan setiap kalimat yang di dengar oleh siswa di pahami secara berbeda, siswa lebih cenderung memahami setiap kalimat dengan bahasa yang terucap saja, atau bolehlah kita sebut dengan pemahaman kontekstual, siswa jarang memahami perkataan secara mendalam atau tersirat, mereka berfikir sederhana, dangkal dan kadang terkesan asal dengar saja, yang lebih membahayakan setiap perkataan guru tadi selalu di terapkan dan lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan. ini yang saya sebut membahayakan. ada baiknya setiap guru mengubah pola berbicara di depan siswa dengan lebih bijak lagi. misalnya "mari kita belajar, supaya kita semakin pintar atau belajarlah dengan sungguh-sungguh, kesungguhan akan membuat kita berhasil. jadi lah anak yang berjiwa pembelajar.... untuk para siswa juga seharusnya selalu belajar, berusaha lah selalu untuk memahami setiap perkataan gurumu dengan lebih baik. maknai setiap kalimatnya dengan baik. pelajari dirimu, gaya belajarmu, cara belajar, dan manfaatkan setiap waktumu sebaik-baiknya. ujian di depan mata bukan hal yang sulit kok, persiapkan diri mu untuk apapun. untuk para siswa Al Falah yang sedang menyiapkan diri, selamat Ujian!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uang Baru yang Sempat Viral Menggunakan Sentuhan modern dan Sulit dipalsukan

Halo teman-teman,  Pernah dengar tentang UPK 75 belum? Oke saya kasih clue sedikit ya, setuju! Tahun 2020 silam, teman-teman di media sosial pada heboh ya meng- update foto uang Rp 75.000; beberapa teman dekat saya pun melakukannya, tapi pada saat itu saya tidak tertarik untuk mengulas lebih lanjut, karena apa? Saya hanya menganggap sesuatu yang viral itu tidak harus latah untuk diikuti. Yap udah bisa menebak ya, saya sedang membicarakan apa? Ya benar saya sedang membicarakan  uang yang diproduksi khusus oleh pemerintah untuk memperingati (commemorative) peringatan kemerdekaan 75 tahun kemerdekaan Indonesia yang kemudian disingkat menjadi UPK 75. Sebagai masyarakat awam, saat itu saya memang mencari tahu sedikit informasi, mengapa pemerintah mengeluarkan uang tersebut, hanya membaca sekilas saya mengambil kesimpulan bahwa uang 75 ribu rupiah yang dikeluarkan pemerintah tersebut (lebih) untuk tujuan koleksi. Alasan saya juga diperkuat setelah melihat perilaku teman-teman yang berhasil

Membuat pizza enak, murah, cocok di lidah orang Indonesia dan Anti Gagal (bahan-bahan yang digunakan dalam bahasa Jerman)

Pagi.. Entah bagaimana caranya supaya sarapan pagi bisa lebih variatif, bosan banget tiap hari makan roti tawar dengan olesan marmalade, atau nuttela, atau nasi goreng. Aku yang tinggal di Jerman ini, tentu lebih pusing sedikit, sepertinya budaya Jajan dan beli sarapan pagi sudah lama aku tinggalkan, semua makanan yang di inginkan harus dibuat sendiri. Ada banyak faktor untuk tidak membeli Jajan, pertama faktor kehalalan, kedua faktor mahal, ketiga rasa yang kadang tidak  sesuai dengan lidah orang Asia. Terpaksa jadi berguru dengan cookpad dan youtube, lalu menyesuaikan dengan ingredient yang ada. Berkali-kali gagal, berkali-kali buang adonan, berkali-kali juga harus mencoba, akhirnya aku menemukan resep yang pas, cepat dibuat, bahannya simpel, dan enak. Sekarang aku mau membagi resep pizza anti gagal dan membuat dough pizza tanpa harus lama, hanya 10 menit bisa membuat pizza tuna mehl, cocok untuk sarapan pagi yang super buru buru. Mari kita coba! Bahan-bahan (ingredient) dought pizza

Catatan Hati seorang Auslander (orang asing)

Seorang Auslander menoleh menatap jendela kaca Mendung menghias langit dengan sempurna angin bertiup kencang dengan riangnya pohon kepayahan  ranting berdaun kecil terombang ambing dihantam angin Menyambut  awal musim semi,  seolah menari  semua cabang dan ranting hampir bergerak  menuruti mau sang angin. Dari jendela kaca  mata ku enggan beranjak  melihat pertunjukan alam yang menakjubkan Bulan ke delapam di Negeri asing, menjadi orang asing di tanah asing Sendiri mengeja, tertatih dengan budaya beda mengumpulkan kepercayaan diri  mengumpulkan hangat  dari rasa sepi yang enggan untuk pergi Delapan bulan berkenalan  dengan alam yang angkuh untuk kulitku,  atau kulitku yang angkuh berkenalan dengan mereka entahlah, semua serba belum terbiasa Angin barat meniupkan hawa dingin selalu kadang sulit ditebak,  salju beterbangan seperti memasuki kebun kapas yang luas. Seperti sedang berada di sebuah padang dengan berjuta dandelion,  hamparan putih beterbangan memenuhi ruang mata. Kadang hujan