Langsung ke konten utama

catatan hati : masa kecil itu membentuk masa depan

Stop redam amarah mu 
Namun jangan berlalu 
Hentikan tangismu 
Lenyapkan ragumu 
Yang selalu lupakan Semuanya t'lah termaafkan 
Tataplah hari baru 
Berlari bersamaku 

Jangan menyerah ku, di sini Genggam erat tanganku 
Jangan sembunyi ku, di sini Genggam erat jiwaku..Oo
Jangan menyerah ku di sini 
Genggam erat tanganku 
Jangan sembunyi ku di sini 
Genggam erat jiwaku
Lihat wajahku lagiLihat wajahmu lagi 
Katakan cinta mu 
Dan untuk selamanya 

Jangan menyerah ku di sini 
Genggam erat tanganmu 
Jangan sembunyi ku di sini 
Genggam erat jiwaku.
jangan menyerah ku di sini.. Di sini 
Genggam erat tanganku 
Jangan sembunyi ku di sini 
Genggam erat jiwaku..

ah... lagu sherina ini.. seolah-olah dibuat khusus untuk diriku... suka.... suka.... banget dah.. dont cry.. dont be sad.... ^^ 

nulis lagi dah...


Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya, dan memecahkan misteri dengan sains, lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak disangka, aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman, mengenal beragam bahasa dan orang-orang asing, aku ingin melepuh terbakar matahari, limbung di hantam angin, dan menciut di cengkeram dingin, aku ingin hidup.. ingin merasakan sari pati hidup… 

Kata-kata andrea hirata ku iyakan tanpa cela, sungguh selama hidupku aku selalu merasakan hidup yang ujungnya tak pernah ku sangka, aku terbiasa hidup dengan tekanan, aku terbiasa dengan kelaparan, aku biasa hidup dibatas limit kemampuan, disaat anak-anak lain seusiaku bermain boneka, aku sibuk membantu nenekku, aku bekerja di rumah makan milik nenekku, tak ada manja, tak ada boneka, disaat anak lain bangun terlambat bermalas-malasan ke sekolah, aku setiap hari harus bangun jam empat subuh, harus membantu pekerjaan yang bisa ku lakukan kemudian menyiapkan diri ke sekolah, sedikitpun aku tak pernah kalah dengan kondisi walau demikian nilaiku tetap yang tertinggi, dari kecil aku terbiasa berjuang, berjuang untuk hidupku yang mengesankan, ketika itu emakku terbaring sakit operasi tumor rahim harus berjuang beberapa bulan dirumah sakit, dan aku berjuang sendiri untuk sekolahku, tak ada sepeserpun uang jajan yang ku minta, maupun di beri orang tuaku, aku tinggal dan diurus nenekku, jika bisa aku boleh saja tak bekerja apa-apa nenekku mampu menyekolahkanku, ketika itu usaha rumah makan nenekku maju pesat, tapi aku tak biasa manja, aku bekerja untuk hidupku, aku di gaji oleh nenekku, untuk itu aku berterima kasih telah mendidikku menjadi pejuang. 


Aku ingat kala itu, aku pulang menangis, nenek dan uwakku mengelus kepalaku, melihatku menangis adalah hal yang aneh buat mereka, aku yang periang, tiba-tiba pulang menangis, sesenggukan! Terbata-bata ku ceritakan perihal yang membuatku begitu kecewa, halnya sepele tadi pulang sekolah di angkot aku di ejek sepupuku sendiri, dia menyebutku bekerja menjadi pembantu dirumah makan nenekku, orangtuaku tak sanggup menyekolahkanku, karena harus membiayai emakku yang sedang sakit di rumah sakit,  semua orang ketika itu menatap ku iba, aku benci dengan tatapan itu, dengan demikian aku merasa menjadi manusia paling lemah, aku tak berdaya dan tak sanggup menahan airmataku, sesak sekali… jika yang mengatakan aku demikian adalah orang lain aku tak masalah tapi dia, dia kakak sepupuku, kami sangat dekat, dari kecil dibiasakan untuk saling mengerti dan menjaga, tapi hari ini dia berbeda, aku tau dia merasa cemburu denganku karena orang yang istimewa baginya yang juga teman kami satu sekolah, selalu satu angkot bersama setiap pagi lebih suka becanda denganku, dia merasa benci untuk hal itu. Dan aku adalah korban dari rasa bencinya… 


Uwak dan nenekku berang, dari kecil kami dididik untuk saling menjaga tapi mengapa jadi seperti ini, uwak dan nenekku membelaku, aku merasa terlindungi, aku bergelayut manja, masih sesenggukan di pelukannya, pelajaran berharga dari uwakku, jangan pernah membalas keburukan dengan keburukan, biarlah nanti Allah akan membalas, yang penting kita harus selalu menunjukkan bahwa apa yang mereka kira tentang kita semuanya salah, tunjukkan yang terbaik, tunjukkan bahwa kita jauh lebih baik dari mereka, Aku senang berada dikeluarga ini, Yang membuatku terharu keesokan harinya kakak sepupuku menangis meminta maaf kepadaku, dia menangis menyesal, hari ini aku belajar memaafkan, meski aku harus luluh lantak mengumpulkan kepercayaan diri yang terserak di depan seluruh teman-temanku.


Sejak itu hidup ku lalui dengan belajar, belajar memaknai, belajar untuk tangguh dalam kesulitan apapun, dari kecil aku terbiasa tidak menuntut, aku ingat saat semua teman-temanku mendesak orang tuanya untuk sebuah sepeda baru, aku sudah sangat merasa cukup dengan melihat dan dibonceng saja oleh teman yang punya sepeda, saat lebaran semua sibuk minta baju lebaran yang baru, aku tak pernah melakukan itu, jika dibelikan baju baru, aku bersyukur, jika tidak, tak apa, aku tetap tertawa dan menikmati lebaran bersama meski memakai baju lebaran tahun lalu, aku tak banyak cakap, itu yang membuat bapakku selalu mengiyakan mauku, karena aku jarang meminta. Hari itu, aku ingat aku telah kelas enam SD, kami yang hanya 15 orang, hanya separuhnya saja yang berkeinginan untuk melanjutkan sekolah, termasuk aku, aku tau keterbatasan orang tuaku, tapi ini inginku, aku tak pernah meminta apapun, bolehlah kali ini aku meminta, aku meminta sekolahkan aku sampai nanti, aku menemui bapakku, ku utarakan niatku untuk melanjutkan sekolah ke MTs biar nanti pake jilbab, bapakku mengangguk menjanjikan. Aku girang bukan kepalang. 


Aku kecil yang tetap berandal
Meski imej pintar, tidak neko-neko dan mau bekerja keras, menjadi gambaran orang tentang ku, padahal aku tidaklah demikian kelemahanku tak sebanding dengan imej baik di atas, emakku sampai pening tujuh keliling, khawatir dengan sikapku yang terbentuk lebih mirip laki-laki di banding perempuan, aku ingat kala itu bapakku pulang membawa sebuah radio baru, hiburan baru bagi rumah kami yang kecil, aku terpana melihat tombol-tombol di radio tersebut, jika diputar kiri dan kanan, ajaib radio tersebut menemukan saluran baru, suara dan lagu yang berbeda, aku kecil bertanya suaranya dari mana, bagaimana caranya menemukan suara di sebrang sana, bagaimana alat itu bekerja, emakku kewalahan menjawabku, pokoknya ada suara itulah radio, nanti kalo besar dan pintar aku pasti bisa tau dari mana asal suara itu, aku tak tahan menunggu besar dan pintar, diam-diam aku mencuri obeng bapakku, radio baru yang super canggih bagiku itu terancam, saat semua orang bekerja, aku menggagahi radio tersebut dengan obeng, kucongkel, dan radio tersebut tenganga pasrah di depanku yang maniak ingin tau, terakhir radio yang baru saja di beli tersebut almarhum di tanganku. Emakku berang sekali lalu mencari lidi terbesar untuk memecutku, aku lari pontang panting ketakutan. Anehnya bapakku tertawa. Sejak itu aku menarik garis permusuhan dengan emakku, jika di suruh tidur aku kabur melompati jendela kamar bergabung dengan teman-temanku yang semuanya laki-laki mencari ikan di sungai, menjerat burung di semak-semak dekat rumah, main bola, emakku lagi lagi emakku telah menunggu dengan lidi di tangan, dan aku tak pernah jera, semua kembali berulang dan terulang.

lain waktu, aku pernah membuat sebuah peristiwa menyengangkan lainnya, kala itu bapakku selalu terobsesi dengan ayam, baginya ayam bukan hanya sekedar peliharaan, ayam lebih dari sekedar itu kawan, bagi bapakku ayam adalah gengsi, saat ayam jagonya berkokok di pagi hari bapakku akan tersenyum bangga, lalu cerita berikutnya adalah bapakku langsung mengabsen jumlah ayam-ayamnya, membuka kandang ayam dengan ramah, senyum yang mekar, menebar pakan ayam, kadang beras, kadang pur, kadang ubi, ah banyak sekali macam-macamnya, kehidupan ayam di rumah kami sangat sejahtera berlimpahan kasih sayang,  bapakku juga senang berbagi dan selalu mengajak ayam-ayamnya bercerita, hubungan antara bapakku dengan ayam sangat dekat, dan tak lupa setiap hari bapakku memberi tau ayam-ayam betina tentang harapannya, pesannya dengan ayam betina jangan sampai sedikit bertelur, harus rajin bertelur itu intinya,  ceritanya dengan para tetangga juga selalu menyelipkan cerita tentang ayam, bangga sekali dengan ayam-ayamnya itu

aku kecil merasa tersaingi dengan ayam, rasa tersaingi itu telah terpupuk, menumpuk dari waktu ke waktu, hingga akhirnya aku menarik garis permusuhan dengan ayam, saking bencinya dengan ayam, sandal di rumahku banyak yang menjadi janda, karena pasangannya selalu menjadi alat perlengkapan berburu ayam, emakku protes melihat sandal yang rata-rata tinggal sebelah itu, bingung cara memakainya ^___^ bapakku selalu mengingatkan sikap ku itu sungguh sangat tidak santun dan cenderung merugikan, selain itu kasian melihat keluarga ayam yang agak takut berkunjung ke rumahku, dan kadang lebih memilih minggat ke rumah tetangga,  padahal di rumah tetangga di perlakukan lebih sadis, aku hanya melempar sandal, tetanggaku pernah melempar sapu berikut dengan tangkai-tangkainya. di banding tetangga aku jauh lebih santun.

kebencianku kepada ayam tidak selalu, part yang paliiing aku suka dari keberadaan para ayam adalah telur ayam dan jika ayam sudah menjadi masuk daftar menu masakan emakku, aku suka diam-diam menggoreng telur ayam tersebut, ku ambil dari sangkarnya dengan penuh taktik jitu tentu kaya kan strategi, agar selamat dari pemantauan bapakku, telur ayam bagi bapakku adalah perihal penting jadi jangan main-main, untuk itu kalau ketahuan jumlah telur ayam menyusut aku harus selalu mempunyai alasan jitu, yang membuat bapakku diam meski tetap sewot, lalu dengan sedih memindahkan sangkar ayam ke tempat yang lebih aman dari gangguanku.  

well bagian dari ayam lainnya yang ku suka adalah saat ayam yang sudah menetas menjadi anak-anak ayam yang manis, selalu ku jaga dengan baik, aku suka mendengar cicit anak ayam, dan aku suka kotek-kotek induk ayam saat kehilangan anaknya, aku dengan tanpa peduli suka sekali memasukkan anak ayam tersebut ke dalam kantong bajuku lalu induknya tersadar dan meski tidak pernah belajar berhitung dia tau jumlah anaknya menyusut, aku menjadi tersangka utama, lalu ia pletak-pletok meminta pertanggungjawabanku, aku menyerah saat induk ayam sudah mulai marah, baru anak ayam ku kembalikan tanpa rasa bersalah, aku rasa aku ini walaupun sangat benci dengan ayam aku tetap perhatian dengan ayam.

suatu hari bapakku tidak di rumah aku dan emak baru pulang dari pesta di tempat saudara, tiga hari lalu ayam masih bertelur dengan baik, hari ini ayam sudah menetaskan telur-telur itu menjadi anak-anak ayam yang lucu, congrattulation ya ayam, anak ayam yang lumayan banyak itu mencicit kelaparan aku dan emak buru-buru mengambil pakan ayam, aku sigap mengambil air sebagai minum ayam jika nanti haus, benar saja rupanya ayam-ayam tadi kehausan bukan kelaparan, anak-anak ayam yang malang itu berebutan minum sampai tenggorokan kecilnya bengkak, bening, penuh air, aku cemas beberapa anak ayam yang tadi minum bergulingan di atas tanah, pingsan kebanyakan minum air, emakku dan aku panik, kalau bapakku sampai tau aku bisa di mutilasi, beberapa hari lalu aku menemukan buku pertolongan pertama pada kecelakaan, membacanya dan sedikit memahaminya, dan hari ini mungkin bisa langsung di praktekkan, aku langsung saja menekan-nekan tenggorokan si kecil dengan hati-hati penuh kasih sayang, air tersebut pelan-pelan keluar dari paruhnya yang kekuningan, lama-lama bengkak di tenggorokan ayam mengecil, ayam kecil sadar dari pingsannya, dan dia berdiri mengibas-ngibas badannya dengan paruhnya yang kecil, melihat ulahku yang telah berhasil menyelematkan ayam kecil tersebut, emakku pun tak tinggal diam, dia melakukan hal yang sama, hingga seluruh anak ayam terselamatkan, kami tersenyum puas, berhasil menjadi penyelamat para ayam.

sejak peristiwa itu aku selalu merasa menjadi pahlawan para ayam, meski setelah itu ayam-ayam tetap tidak berlaku manis padaku, aku tetap merasa menjadi pahlawan bagi mereka, peristiwa lain terjadi, hari itu aku melihat pertumbuhan mata kanan ayamku tidak normal, semakin hari semakin terlihat bengkak, dan hampir berakibat hampir seluruh mata kanannya sudah tak terlihat, ayam itu ku tangkap, ku cowel-cowel matanya yang bermasalah itu dengan teliti, aku kecil mengambil kesimpulan penyakit ayam itu tak di ragukan lagi "kena tumor" (persis penyakit emakku yang beberapa waktu lalu harus di operasi di rumah sakit) dan yap... tidak di ragukan lagi aku juga siap mengoperasi ayam yang malang itu dengan peralatan seadanya, silet, perban, hendiplas (entah bagaimana tulisan pas-nya aku tak tau) obat merah (jaman aku kecil obat merah lebih nge-tren di banding betadin sebagai obat luka), hal ini tentu lagi-lagi terjadi saat emakku dan seluruh anggota keluarga tidak sedang berada di rumah, aku menangkap ayam tersebut secara paksa, ayam tersebut masuk ruang operasi di halaman rumahku semua disaksikan oleh seluruh keluarga ayam, sungguh kejam sekali, aku melakukan operasi itu tanpa obat bius apapun, mata ayam yang malang itu langsung saja ku toreh dengan silet, ko congkel tumornya memakai gunting, ayam menjerit-jerit, keok-keok, aku tetap tak peduli, tumor berhasil ku angkat dan matanya semakin jelas terlihat, jadi benar ayam tersebut kena tumor, seluruh matanya tertutup daging yang tumbuh secara tak sopan dan tak tau aturan tersebut, aku membersihkan luka ayam yang menganga, darahnya banyak bersimbah, obat merah ku tuangkan di perban, lalu ku tambal di mata kanan ayam yang kini kehilangan tumor tersebut, terakhir aku rekatkan dengan hendiplas ku lilitkan di seluruh kepala sang ayam, usai operasi aku memandang ayam dengan puas. ku perhatikan ayamku kini mirip seperti kapten Jack Sparow si bajak laut... ah gagah juga...

pulang-pulang bapak dan emakku protes, melihat ulahku yang sadis, binggung cara menertibkan kenakalanku yang di luar batas itu, setelah radio yang menjadi korban kebiadabanku, kini ayam yang menjadi korban uji coba ilmiahku, emakku kewalahan melihat perilaku ku yang jauh berbeda dengan anak-anak lain yang sebaya, aku di interogasi 
"ngapo gawe kayak gitu? orang be dak sengajo keno silet... sakit, apo lagi lah sengajo di silet, ayam tu jugo biso sakit" emakku mondar-mandir cerewet di depanku
"ayam tu sakit mak, kalo di biarin terus, dio biso mati, kan itu kato dokter waktu emak keno tumor, kalo dak di operasi emak bisa meninggal, dari pada ayamnya mati mending aku selamatkan, nanti pasti sembuh"
"dokter itu paham ilmunya, nah kalo dayang, pake ilmu perkiraan, itu yang dak boleh, salah-salah bikin mati, melakukan sesuatu itu harus tau ilmunya dulu, jangan cuma berdasarkan perkiraan yang mengada-ada"
" ha trus ngapo.. dah tau ayamnyo kena tumor kok dak di bawa ke rumah sakit?
"biaya operasi tumor ayam lebih mahal dibanding dengan biaya operasi tumor manusia ha.. kau tau itu... MAHAL..." emakku sengaja menekan suaranya jengkel.
emakku sewot bin jengkel minta ampun menghadapiku, bagi emakku aku adalah cobaan nan tak tertanggungkan, lebih baik merawat kedua abangku dari pada menghadapi aku seorang, emakku makin hari semakin kehilangan muka di depanku, betapa tidak teorinya tentang ayam beberapa waktu lalu kini terpatahkan, ayam yang kini lebih mirip bajak laut sudah pulih dan telah bergabung dengan para ayam lainnya. kondisinya yang riang gembira dan melihat itu emakku kehabisan akal menaklukanku, putrinya yang berandal.

Kini maret 2013,
aku tertawa terpingkal-pingkal, di depanku teronggok puing-puing kipas angin yang berantakan, menyedihkan, baru saja aku mencongkel kipas angin tersebut dengan obeng yang selalu ada dalam tas kecilku selain pena, pensil, spidol, obeng, jepit kuku, ah lengkap, kipas angin malang itu telah na'as di depanku, tak bisa di hidupkan lagi, harus masuk rumah sakit berjudul bengkel, kemaren aku mengutak-atik leptop, alasan ku sebenarnya penasaran isi dalam leptop kaya apa sih? tapi alasan kedua lebih meyakinkan, membersihkan debu, alasanku kalem, kalo ada yang nanya, kan jawabanya lebih waras. 

ah aku tetaplah aku yang berandal... 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uang Baru yang Sempat Viral Menggunakan Sentuhan modern dan Sulit dipalsukan

Halo teman-teman,  Pernah dengar tentang UPK 75 belum? Oke saya kasih clue sedikit ya, setuju! Tahun 2020 silam, teman-teman di media sosial pada heboh ya meng- update foto uang Rp 75.000; beberapa teman dekat saya pun melakukannya, tapi pada saat itu saya tidak tertarik untuk mengulas lebih lanjut, karena apa? Saya hanya menganggap sesuatu yang viral itu tidak harus latah untuk diikuti. Yap udah bisa menebak ya, saya sedang membicarakan apa? Ya benar saya sedang membicarakan  uang yang diproduksi khusus oleh pemerintah untuk memperingati (commemorative) peringatan kemerdekaan 75 tahun kemerdekaan Indonesia yang kemudian disingkat menjadi UPK 75. Sebagai masyarakat awam, saat itu saya memang mencari tahu sedikit informasi, mengapa pemerintah mengeluarkan uang tersebut, hanya membaca sekilas saya mengambil kesimpulan bahwa uang 75 ribu rupiah yang dikeluarkan pemerintah tersebut (lebih) untuk tujuan koleksi. Alasan saya juga diperkuat setelah melihat perilaku teman-teman yang berhasil

Membuat pizza enak, murah, cocok di lidah orang Indonesia dan Anti Gagal (bahan-bahan yang digunakan dalam bahasa Jerman)

Pagi.. Entah bagaimana caranya supaya sarapan pagi bisa lebih variatif, bosan banget tiap hari makan roti tawar dengan olesan marmalade, atau nuttela, atau nasi goreng. Aku yang tinggal di Jerman ini, tentu lebih pusing sedikit, sepertinya budaya Jajan dan beli sarapan pagi sudah lama aku tinggalkan, semua makanan yang di inginkan harus dibuat sendiri. Ada banyak faktor untuk tidak membeli Jajan, pertama faktor kehalalan, kedua faktor mahal, ketiga rasa yang kadang tidak  sesuai dengan lidah orang Asia. Terpaksa jadi berguru dengan cookpad dan youtube, lalu menyesuaikan dengan ingredient yang ada. Berkali-kali gagal, berkali-kali buang adonan, berkali-kali juga harus mencoba, akhirnya aku menemukan resep yang pas, cepat dibuat, bahannya simpel, dan enak. Sekarang aku mau membagi resep pizza anti gagal dan membuat dough pizza tanpa harus lama, hanya 10 menit bisa membuat pizza tuna mehl, cocok untuk sarapan pagi yang super buru buru. Mari kita coba! Bahan-bahan (ingredient) dought pizza

Catatan Hati seorang Auslander (orang asing)

Seorang Auslander menoleh menatap jendela kaca Mendung menghias langit dengan sempurna angin bertiup kencang dengan riangnya pohon kepayahan  ranting berdaun kecil terombang ambing dihantam angin Menyambut  awal musim semi,  seolah menari  semua cabang dan ranting hampir bergerak  menuruti mau sang angin. Dari jendela kaca  mata ku enggan beranjak  melihat pertunjukan alam yang menakjubkan Bulan ke delapam di Negeri asing, menjadi orang asing di tanah asing Sendiri mengeja, tertatih dengan budaya beda mengumpulkan kepercayaan diri  mengumpulkan hangat  dari rasa sepi yang enggan untuk pergi Delapan bulan berkenalan  dengan alam yang angkuh untuk kulitku,  atau kulitku yang angkuh berkenalan dengan mereka entahlah, semua serba belum terbiasa Angin barat meniupkan hawa dingin selalu kadang sulit ditebak,  salju beterbangan seperti memasuki kebun kapas yang luas. Seperti sedang berada di sebuah padang dengan berjuta dandelion,  hamparan putih beterbangan memenuhi ruang mata. Kadang hujan