Langsung ke konten utama

Catatan hati : Murid terpandai yang ku temui (persil ke 3)


Murid terpandai di bidang Ekonomi-Akuntansi yang pernah ku temui
Seorang siswi yang lumayan cantik, periang, lucu, selalu tertawa, melihatnya aku selalu teringat kembang sepatu yang mekar berayun-ayun, cantik, semarak dan menarik, namun kebanyakan siswi pintar pada umumnya susah bersosialisasi dengan teman sekelasnya, atau tidak di sukai karena jarang memberi contekan, eka namanya. Duduk di bangku nomor dua paling belakang, yang membuatku kaget mata pelajaran ekonomi-akuntasi paling di takuti di jurusan IPS, banyak hitungan, rumus, dan logika matematika di sana, alasan kebanyakan anak yang berada di jurusan IPS adalah menghindari mata pelajaran hitungan di jurusan IPA, maka mata pelajaran ekonomi adalah pelajaran paling membosankan di dunia, aku harap maklum, jika satu materi membutuhkan berkali-kali penjelasan, kadang sampai suaraku habis, kadang aku harus mencari cara tergampang untuk membuat mereka mengerti, misalnya rumus menghitung pendapatan nasional adalah
Rumus asli PN = Rent + wages+ Interest + Ω (Profit)
Rumus yang ku convert PN= sewa +upah+bunga+untung (laba)

Agar gampang di ingat aku selalu bilang rumus pendapatan nasional sama dengan PN=SUBU (ingat sholat subuh ya wajib hukumnya) biasanya tawa mereka berderai di kelas, dan saling membuka kartu bahwa tak ada yang sholat subuh tadi pagi.
Cara-cara demikian ku terapkan dalam rumus-rumus yang lain, kadang berhasil, kadang gagal, mereka dan aku berproses, sebenarnya kalau lah boleh jujur aku lah yang paling banyak belajar dari mereka. Kadang untuk membuat mereka paham aku harus membantu mereka satu per satu, menjelajah bangku demi bangku mereka, kadang harus mengatasi kejahilan mereka, kadang lelah, kadang marah, kadang bosan, kadang meluap, kadang indah, kadang muram, penuh warna, namun satu-satunya obat dalam kelas adalah peneriman, merasa di akui dan merasa dibutuhkan oleh mereka itu lebih dari cukup, lelahku, marahku lenyap kala melihatnya dialah siswa yang menghiburku, tak perlu banyak orang cukup satu orang saja, aku sudah merasa ada, di akui dan tak sia-sia,
Dia…
Dari pertama mengajar aku sudah tau, yang paling menonjol dalam materi ekonomi adalah eka, tugasnya rapi, cepat selesai, dan selalu tanpa banyak pertanyaan, mengerjakan soal yang dianggap sulit dengan mudah, pernah suatu ketika ku beri soal yang belum ku ajarkan, dia membaca sejenak contoh soal yang ada di buku, kemudian mengembangkan rumusnya sendiri, eka berhasil, bisa, dan minta tambahan soal, Lain waktu ku periksa buku paketnya semua latihan dalam buku paket telah dia selesaikan, soal-soal ujian nasional beberapa tahun sebelumnya semua di lahap habis olehnya, ku periksa dan betul.
Eka juga membantuku menemukan rumus-rumus sederhana dalam materi-materi tertentu, meski tanpa ia sadari, dari hasil jawabannya aku belajar lagi, disitulah aku menemukan cara termudah,  Eka benar-benar memberiku harapan, murid kebanggaanku itu selalu menjadi penyemangatku di dalam kelas, aku bercerita dengan rekan-rekan guru, namun di pelajaran lain eka tidak begitu menonjol. Ah benar kelebihan dan kekurangan setiap orang selalu ada, dan aku bangga telah (tanpa sengaja) menemukan bakat yang mungkin tanpa di sadari telah ada dalam dirinya. Satu-satunya yang membuat aku bersedih adalah saat eka sharing pendapat denganku tentang cita-cita, aku berharap dia mencoba kuliah di STAN (sekolah tinggi akuntansi negara) cukup menjanjikan, dan untuk itu aku telah mencari kumpulan-kumpulan soal test masuk perguruan tinggi tersebut, aku sangat bersemangat. Eka pasti berhasil dan sangat berkembang di sana, aku membayangkan keberhasilannya ke depan, namun yang membuat eka sedih hanya karna satu keputusan mutlak, orang tuanya hanya mengizinkan eka masuk sekolah kebidanan, jauh dari ilmu yang dia pelajari, sejujurnya eka tak punya basic hapalan, dan dia benci belajar biologi, “eka Cuma mau ekonomi bu” airmatanya meleleh, namun setelah sekian lama berjuang dan di titik akhir keputusan orang tuanya tak tergoyahkan, akhirnya aku menguatkan keputusannya untuk mengikuti cita-cita orang tuanya, Allah menempatkanmu di posisimu pasti punya maksud dan tujuan, jalani, dan teruslah belajar..
Airmataku menetes, eka adalah harapanku yang berubah haluan… banyak mimpi, diskusi, yang selalu kami bicarakan bersama, yang membuatku tak sabar ingin melihat dia mengubah dunia, sejujurnya aku ingin mengatakan dia mirip aku waktu SMA, terima kasih bu Yeni dan Pak Bambang  yang mengurusi PMDK-ku ke UNJA, ke dua guruku itu yang mengisi semua formulir, memfoto copy dan melengkapi semua persyaratan PMDK tersebut, mereka yang memilihkan jurusanku, setelah berdiskusi panjang lebar dengan ku, mereka tau bakatku, dan meletakkanku di tempat yang seharusnya, orang tuaku sangat percaya padaku dan kedua guruku itu, sementara eka? Itulah perbedaan diantara kami yang membuatku menangis.
eka kini seperti apa?
Beberapa hari lalu ia menyapaku dengan seragam putih –putihnya, Alhamdulillah bu... eka udah wisuda, dan siap menjadi BIDAN.
Aku tersenyum, bagus… bisa membantu orang banyak… InsyaAllah.
Pelajaran moral : selalu ada dan terjadi, harapan tak sesuai dengan kenyataan

Detik-detik menjelang UN 2009
Ternyata anak-anak bandel di kelas ini sudah mulai cemas, UN bukanlah main-main, di sekolah tak ada harapan sedikitpun, sekolah kami tak ada main-main dengan nilai, tak ada menyebarkan kunci seperti rumor yang beredar di sekolah-sekolah lain, beberapa orang ada yang langsung menemuiku “bimbel di sekolah tak cukup bu, kami boleh belajar ke rumah ibu? Aku berbunga bahagia sekali mendengar kalimat itu, bagiku bukan masalah gaji, tapi mereka mau belajar bagiku adalah sebuah prestasi, senyumku mengembang, jarang ada anak IPS minta tambahan belajar, yang ada minta diskon belajar, kami membuat janji belajar, karena sekolah full day, jadi kami sepakat belajar jumat, sabtu dan minggu siang, dan persyaratan berikutnya yang putri harus berjilbab, yang putra harus memakai celana di bawah lutut, boleh bawa makanan, dan tidak ada yang merokok, semua sepakat.
“rasa lelah itu adalah cinta, Semakin lelah semakin dalam cinta yang tersemai, di balik lelah itu cinta semakin menjadi-jadi, dibalik lelah itu, aku semakin memberi, dan semakin banyak aku memberi, semakin banyak cinta dan lelah bertebaran di sana-sini”
Aku menunggu mereka dengan papan tulis kecil, mengenai belajar di rumah ku tak ada guru yang tau, dan yang belajar ini pun tak semua siswa hadir, hanya beberapa orang saja, dan masalahnya adalah beberapa orang saja ini, kebanyakan siswa yang terlemah diantara siswa yang lemah di kelas, tapi buatku sudah ada satu modal yaitu mereka mau, mau belajar. Aku senang sekali saat mereka berkumpul, celotehan mereka, kejahilan mereka, semua tak semulus yang ku duga, mereka masih remaja, ada yang sibuk berbisik-bisik, ada yang sibuk mencomot gorengan yang mereka bawa, ada yang sibuk menjawil kuping temannya yang asik menulis, ada yang sibuk smsan, aku mendengus... ah apa yang kurang ya... strategi ku mengajar mungkin membosankan nih, besoknya aku memutar otak, membuat kurikulum belajar di rumah.

Aku memutar otak, bolak-balik lembar demi lembar buku Quantum teaching (ah dulu mengapa selalu ada waktu untuk membuka buku dan belajar) mencocokkan kondisi dengan teori, lalu menyesuaikannya menjadi solusi, ah… analisis SWOT lagi nih.. kekuatanku saat ini kemauan belajar anak tinggi, kekhawatiran menghadapi UN, bla… bla… bla… jangan banyak teori langsung ke Inti soal saja, latihan soal-soal, beri tips-tips/cara termudah menjawab soal, cara membaca dan memahami maksud soal, seterusnya mengalir… aku tak henti-hentinya menulis, menemukan, merancang, lalu indah… aku merasa meski tak sempurna setidaknya aku siap untuk besok.
Parah rupanya parah sekali saat aku menjelaskan materi tabungan yang rata-rata hitungan semua, gawat sekali rupanya basic matematika anak-anak ini lebih memprihatinkan dari anak SD, percaya atau tidak 15-6 saja memerlukan waktu satu menit menghitungnya, sampai aku membantu mereka membentangkan ke sepuluh jariku agar mereka mampu menghitung, setelah sadar kelakuan kami, tawa kami berderai di tengah-tengah gelap yang berusaha ku terangi, sungguh terlalu kata bang Haji, lalu mereka berkata “lolo nian kami ni buk yoh… ha ha ha” lalu ku jawab “iyo.. jangan-jangan lulus SD, nyogok kepala sekolah dak? Aku berusaha mengimbangi bahasa mereka, dengan demikian mereka merasa nyaman berdialog denganku, awalnya aku terkesan jaim dan sangat formal dalam bicara, ternyata sangat tidak efektif, mereka menjauh, dan kami menjadi dingin,  orang asing. Akhirnya ku coba memasuki dunia mereka, sejauh ini walaupun mereka tidak menjadi jenius setidaknya mereka mau membuka buku dan mencoba, bagiku itu sudah lebih dari cukup.
UN pun terjadi
Hari itu aku di rumah seharian, SMS bertubi-tubi isinya semua minta doa restu dariku, hari ini Ujian Nasional mata pelajaran Ekonomi-Akuntansi, aku berusaha menenangkan dan berdoa, menit demi menit berlalu, menunggu kabar itu membosankan, sebagai guru bidang studi aku tak di perkenankan datang ke sekolah selama pelaksanaan UN, aku berdoa semoga mereka dimudahkan, selesai pelaksanaan UN aku ke sekolah, mereka masih berkumpul : menungguku… kesannya “buk… eh… segalo-galo yang ibuk jelasin tu keluar buk!! Kalo eka yo lah gampang dak nengok-nengok nian dio buk! Aku tersenyum, “yang berlalu sudah jangan di pikirkan, kita lihat hasilnya saja, yang jelas ibuk bangga dengan kalian hari ini,,, semua tetap melanjutkan kuliah atau mau kerja nih,” ku dengar sahutan “caknur mau langsung nikah buk, bapaknyo toke sawit buk” celoteh mereka siang itu begitu mendamaikan, belum penuh delapan bulan menjadi guru, aku telah menjadi orang yang berbeda, dan aku boleh berbahagia karena kualifikasi mata pelajaran ekonomi-akuntansi dari memprihatinkan sekarang naik beberapa digit yaitu kualifikasi B untuk seluruh kota jambi, setidaknya aku berusaha.
Pelajaran moral : seperti apapun tempat yang kau temui, semuanya mengajarkan sesuatu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uang Baru yang Sempat Viral Menggunakan Sentuhan modern dan Sulit dipalsukan

Halo teman-teman,  Pernah dengar tentang UPK 75 belum? Oke saya kasih clue sedikit ya, setuju! Tahun 2020 silam, teman-teman di media sosial pada heboh ya meng- update foto uang Rp 75.000; beberapa teman dekat saya pun melakukannya, tapi pada saat itu saya tidak tertarik untuk mengulas lebih lanjut, karena apa? Saya hanya menganggap sesuatu yang viral itu tidak harus latah untuk diikuti. Yap udah bisa menebak ya, saya sedang membicarakan apa? Ya benar saya sedang membicarakan  uang yang diproduksi khusus oleh pemerintah untuk memperingati (commemorative) peringatan kemerdekaan 75 tahun kemerdekaan Indonesia yang kemudian disingkat menjadi UPK 75. Sebagai masyarakat awam, saat itu saya memang mencari tahu sedikit informasi, mengapa pemerintah mengeluarkan uang tersebut, hanya membaca sekilas saya mengambil kesimpulan bahwa uang 75 ribu rupiah yang dikeluarkan pemerintah tersebut (lebih) untuk tujuan koleksi. Alasan saya juga diperkuat setelah melihat perilaku teman-teman yang berhasil

Membuat pizza enak, murah, cocok di lidah orang Indonesia dan Anti Gagal (bahan-bahan yang digunakan dalam bahasa Jerman)

Pagi.. Entah bagaimana caranya supaya sarapan pagi bisa lebih variatif, bosan banget tiap hari makan roti tawar dengan olesan marmalade, atau nuttela, atau nasi goreng. Aku yang tinggal di Jerman ini, tentu lebih pusing sedikit, sepertinya budaya Jajan dan beli sarapan pagi sudah lama aku tinggalkan, semua makanan yang di inginkan harus dibuat sendiri. Ada banyak faktor untuk tidak membeli Jajan, pertama faktor kehalalan, kedua faktor mahal, ketiga rasa yang kadang tidak  sesuai dengan lidah orang Asia. Terpaksa jadi berguru dengan cookpad dan youtube, lalu menyesuaikan dengan ingredient yang ada. Berkali-kali gagal, berkali-kali buang adonan, berkali-kali juga harus mencoba, akhirnya aku menemukan resep yang pas, cepat dibuat, bahannya simpel, dan enak. Sekarang aku mau membagi resep pizza anti gagal dan membuat dough pizza tanpa harus lama, hanya 10 menit bisa membuat pizza tuna mehl, cocok untuk sarapan pagi yang super buru buru. Mari kita coba! Bahan-bahan (ingredient) dought pizza

Catatan Hati seorang Auslander (orang asing)

Seorang Auslander menoleh menatap jendela kaca Mendung menghias langit dengan sempurna angin bertiup kencang dengan riangnya pohon kepayahan  ranting berdaun kecil terombang ambing dihantam angin Menyambut  awal musim semi,  seolah menari  semua cabang dan ranting hampir bergerak  menuruti mau sang angin. Dari jendela kaca  mata ku enggan beranjak  melihat pertunjukan alam yang menakjubkan Bulan ke delapam di Negeri asing, menjadi orang asing di tanah asing Sendiri mengeja, tertatih dengan budaya beda mengumpulkan kepercayaan diri  mengumpulkan hangat  dari rasa sepi yang enggan untuk pergi Delapan bulan berkenalan  dengan alam yang angkuh untuk kulitku,  atau kulitku yang angkuh berkenalan dengan mereka entahlah, semua serba belum terbiasa Angin barat meniupkan hawa dingin selalu kadang sulit ditebak,  salju beterbangan seperti memasuki kebun kapas yang luas. Seperti sedang berada di sebuah padang dengan berjuta dandelion,  hamparan putih beterbangan memenuhi ruang mata. Kadang hujan