Langsung ke konten utama

Ketakutan saat Memutuskan Resign dari Pekerjaan part 1


Pict. From instagram adkkrt

"Setiap orang selalu punya mimpi, cita-cita dan harapan. Aku juga begitu. Cita-citaku sejak kecil hanya ingin menjadi guru"
(Dayang astuti, pensiunan guru IPS)

Ketakutan saya dulu saat membayangkan resign dari pekerjaan..
1. Merasa penghasilan akan berkurang.
Ku pikir dengan Hanya mengharapkan uang dari suami, pasti akan sangat tidak nyaman, saya orang yang mandiri secara finansial, mau beli apa apa biasa pakai uang sendiri.
Bisa mengatur volume keuangan sendiri. Kapan harus nge gas nge rem keuangan tanpa harus sharing ke suami tentu bisa sedekah dengan uang sendiri.
2. Merasa akan menjadi "beban" bagi suami. Sehingga suami akan cenderung "merendahkan" istri.. karena apa apa minta, dikit dikit beliin ini dong.
3. Aku pasti mati gaya dirumah, ga ngapa ngapain.. bikin mumet dan pasti boring abis.
Hi hi itu ketakutan saya dulu saat memutuskan resign. Ada yang sama?
Terbukti atau tidak? Hi hi sabar.. yok lanjut!

Dua belas tahun menjadi ibu guru di sekolah swasta yang lumayan terkenal di Kota Jambi, punya penghasilan walaupun tak bikin kaya, tapi punya penghasilan tetap, punya online shop tokoumiabid yang pada saat itu sangat lumayan baik pertumbuhannya.
Bertepatan dengan diterimanya suami sebagai mahasiswa doktoral di Jerman, saya pun menerima undangan dari DIKNAS Pendidikan Kota Jambi, ya... saya lulus sebagai mahasiswa di salah satu kampus di bandung untuk mengikuti program PPG Daljab (pendidikan profesi guru dalam jabatan).

Fyi, PPG adalah impian semua guru dalam negeri tercinta ini, salah satu ujung dari profesi guru ini adalah guru tersertifikasi, bukan hanya sebagai salah satu bentuk pembuktian diri sebagai guru, namun, juga ada tambahan finansial dari negara berupa tunjangan sertifikasi guru setara dengan satu bulan gaji, intinya gaji guru akan naik dua kali lipat dari gaji biasanya yang dia terima perbulan.

Mashaallah.. saat itu kami diskusi lumayan panjang (baca : sengit), kami dua orang manusia yang sama sama mendapat kesempatan di waktu yang sama, ya PPG adalah impianku selama 12 tahun menjadi guru, dan melanjutkan sekolah di luar negeri adalah impiannya.

Aku ingat saat itu, waktu kami mulai pertemuan taaruf yang pertama "kelak kalo kita menikah,aku akan tetap selamanya menjadi wanita bekerja, aku akan selalu jadi guru, kalo oke lanjut kalo ga ya sorii bye"
(Ya ampun aku sekeras itu rupanya)

Tapi akhirnya apapun urusan dunia ini yang penting selalu ada konsep yang di sepakati bersama tentu harus sesuai dengan ketentuan Allah, ya balik lagi urusan dunia ini akan selesai hanya dengan merujuk ketentuan Allah.

Baiklah, pada Akhirnya aku mundur, aku menutup buku impianku. Walaupun orang diknas kota menelepon "membujuk" ku melengkapi berkas.. aku izin pamit mundur.

Dua hari sebelum berangkat ke Jerman aku resmi melayangkan surat pengunduran diri sebagai guru, aku pensiun jadi dini, lalu memulai petualangan baru menjadi ibu rumah tangga sejati di rantau orang.

Belum pernah magang jadi ibu rumah tangga sejati, belum pernah praktek berbahasa Inggris di Indonesia tiba-tiba dalam waktu beberapa hari saja sudah sulit mendengar bahasa Indonesia.
Aku ingat pertama kali ngobrol dengan orang asing, aku hanya diam seperti patung manekin toko, saat dia nanya, aku tau dan ngerti dia ngomong apa, tapi aku ga tau cara membalas omongan dia.

Balik balik ke rumah nangis kok merasa diri bego pake banget yak.
Ya Allah... Beratnya.

Tiba-tiba sudah tanggal 18 aja. aku ngecek internet banking seperti biasa, eh kok rekening ga nambah yak. oh lupa udah ga gajian ya hiks..
Bingung memanajemen rumah kok kerjaannya yang kusangka bakal ga ada kerjaan itu ternyata ga ada habisnya. Belum jam dua belas siang aku udah kaya korban nagasaki dan hirosima. Rambut jigrak, mata sayu, kulit kusyam, daster setengah basah setengah kering. Koyo cabe mulai nempel kiri kanan kepala.

Kain bersih menggunung, tak jarang aku buat sedikit kawah ditengahnya lalu menenggelamkan diri, tidur dengan nyaman. Agar tak dicari. Tapi Esha selalu berhasil menemukan aku dimana.
(Kontras dengan pemandangan jaman dulu pagi pagi udah wangi, udah dandan udah rapi)
Bingung juga nanggapin Esha yang nempel kaya perangko, biasanya di indonesia dia ga tau aku dimana.. mau pergi ya pergi aja.. dia ga peduli.
Rasanya aku tertekan banget, pelan pelan aku berubah jadi harimau yang dengan tatapanku aja abi abid bisa kabur, lalu berubah menjadi singa, kalo sudah mengaum penduduk rumah akan ngumpet ke liang semut. Terakhir sewaktu waktu aku bisa berubah menjadi te kā si monster lava nya Moana.. (itu te fiti di film Moana, yang jantungnya di curi sama Mauwi)
Serem pokoknya.
Adaptasi dari ibu bekerja menjadi menjadi full mommy time. Itu sungguh berat, melelahkan dan menyeramkan.

Ya bisa dipastikan aku kena dua masalah pokok di tahun pertama kedatangan
Satu masalah adaptasi menjadi ibu rumah tangga.
Kedua adaptasi dengan budaya dan hidup diluar negeri.

Rasanya kaya iklan makan permen blaster jaman old.. di iklan kamu akan kena angin puting beliung setelah makan permen itu - ingatkan? Kalo nggak yo wis bayangin aja.

***
"Susahnya jadi orang dewasa itu adalah menuntut diri sendiri tetap ha ha hi hi diluar sana, walau hati sesungguhnya sedang huhu hiks hiks"

Bukan pakai topeng, tapi berusaha tetap baik baik saja, berusaha kuat walau sebenernya oleng banget.
Beberapa bulan di Jerman, aku menjadi pribadi yang berbeda bingit, hanya beberapa bulan saja, aku sudah pada titik terendah, jika dalam ukuran volume maka aku aku pada level kesabaran yang mulai diambang batas minimal banget.
Moody, galak, tiba-tiba insecure, kadang juga ada bisikan "suamimu makin tinggi ilmunya kamu malah jalan ditempat" nanti ga bisa ngimbangi omongan suami loh.
Wah pokoknya saat itu bisikan bisikan begitu banyak menggoda. Aku yang periang dan suka becanda ga ada lagi. Muka serius, pendiam dan mudah tersinggung dengan hal sepele.
Aku juga paham suami dengan berbagai tekanan awal masa kuliah tentu juga sangat berat. Aku jadi malas cerita ke dia, karena lihat mukanya aja aku tahu tekanan apa yang dia terima. Malah kadang kasian lihatnya siang malam di depan laptop.
(Tapi ini salah banget. Suami istri harus membicarakan apapun tentang visi misi hidupnya diwaktu yang tepat)
Selain masalah mengurus urusan rumah tangga.
Aku juga pada fase kebingungan, terlalu banyak masukan dan ide bermunculan. Hal ini semata mata karena tuntutan ke diri sendiri aku harus punya penghasilan sendiri, yap.. ini pemikiran yang selalu dikhawatirkan oleh orang yang baru resign adalah harus mandiri finansial. Terakhir aku menyesal karena Ketakutan ini adalah tidak semestinya.
Ujung dari itu semua menuntut aku mencari menggali apa yang aku suka?
Aku suka banget nulis.. aku melihat ada peluang jadi penulis, maka aku ikut kelas menulis, aku juga diminta teman teman untuk membuat chanel YouTube maka aku ikut kelas editing video.
Kondisi gagap orientasi ini, malah membuat aku makin tidak stabil.
Hampir tiap hari aku ga keluar rumah, karena disibukkan dengan kelas online. Yap aku pada kondisi overload sebenernya.
Kebanyakan kelas online dan tuntutan belajar ini itu tapi ga fokus jadinya.
Aku sering begadang ngerjain banyak hal. Editing video, bikin ide buat nulis.
Belum lagi harus menjadi tempat curhat suami yang juga butuh banget masukan dan pendapat dariku tentang apapun.
Akhirnya manusia biasa sepertiku berada pada titik nadir. Kekuatanku habis untuk hal yang tidak prioritas pada saat itu sebenernya.
Aku merenung.
aku buat list apa yang salah, apa yang mesti diperbaiki, aku juga nulis kemungkinan indikator masalah dalam hidupku.
Balik lagi. Ujung dari setiap kelelahan dan perjuangan di dunia adalah Allah semata.
"Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan. (Qs. Ali imron : 109)*Nah pegel menyapa lagi.. yang mau part 3 komen up ya.. yang mau share pengalamannya mengalahkan ego diri sendiri please share di komen.. biar sama sama belajar kita ya..
Yap benar setiap diri harus selalu berbenah.
***

aku terharu banget banyak momi momi yang senasib denganku pada sharing lewat wa, dm, dan inbok. Mashaallah kalian hebat.
Ibu rumah tangga dengan semua permasalahan kompleksnya, ibu ibu yang dengan gagah berani menutup semua pintu yang bernama peluang untuk meraih mimpi mimpi, lalu berbalik arah mengikuti titah mauNya sang ilahi.
Tentu bukan hal yang mudah melawan hati, merelakan mimpi mimpi yang terhampar di depan mata. Mungkin kalau masih dalam posisi mengejar kita bisa dengan mudah berhenti, tapi kalo sudah dalam proses menjalani dan kenyataannya kita harus berhenti. Itu perlu hati yang luas dan bijaksana sekali kurasa.
Yuk berpelukan, kita ga sendiri.
Ada banyak ibu rumah tangga yang bermula dari berbagai macam latar belakang pendidikan, menghadapi begitu banyak pendapat dari para tetangga, kenalan, dan tentu saja netijen.
Kaya gini misalnya:
"Wah sayang yah ijazah sarjananya, kalo akhirnya harus dirumah aja urus anak!
"Wah percuma dong sekolah tinggi tinggi cuma jadi ibu rumah tangga!
Ada juga perhatian lainnya berupa..
"Sekolah lagi aja, mumpung diluar negeri"
Hi hi sebenernya ga ada yang salah ya jika dipandang dari sudut pandang orang lain. Mungkin dulu kita juga berfikir sama seperti itu.
Coba deh, berfikir juga dari sudut orang yang kita kasih pendapat dan saran.
Mereka sedih ga nerima itu?
Dia juga maunya semua sesuai dengan harapan dan impiannya, tapi ga semua kondisi seindah itu. Ada banyak sisi lainnya yang kadang selalu jalan bersama, senang dan susah itu paket komplit sebenernya, jika ada bagian senengnya,selalu ada sisi susahnya.
Begitulah hidup.
Jadi, kedepannya jika ada teman atau siapapun yang kita temui yuk ringan kan mereka dengan suport, seperti :
"Alhamdulillah ya bisa full time sama anak anak di rumah, kebayang kan gimana senengnya menyaksikan tumbuh kembang anak setiap hari, terus di asuh sama ibu ibu yang pinter lagi, bisa nerapin ilmu yang yang didapa sama anak anak langsung, ga kebayang kalo nyewa pengasuh tamatan sarjana pasti mahal banget bayarnya. semoga anak anaknya menjadi anak yang bermanfaat untuk umat ya..
Duh adem dapat suport begini mak.
Atau
"Wah dapat kesempatan keluar negeri, selamat belajar hal hal baru ya mak, belajar tidak harus dibangku kuliah kok semangat ya.."
Duh seneng deh kalo dapat suport beginian, adem! Kaya ubin mesjid. ❤️
Semoga aku, kamu dan kita semua menjadi orang yang bermanfaat perkataannya untuk orang lain. Aammiin
***
Hatiku nelongso, buku agenda yang selama ini ku gunakan untuk membuat rencana hidup dan mengevaluasi apapun itu, sekarang sudah tak berbentuk rupanya.
Apa pasal?
Ya betul sudah menjadi kanvas lukis buat Esha. Layaknya pelukis profesional kalo salah coret (maksudnya tak sesuai dengan ekspekstasi dia) maka langsung buku agenda cantik itu dirobek esha tanpa ampun.
Aku merinding, aku sayang banget sama buku agenda itu. Udah kebiasaan dari jaman kuliah, selalu ada buku catatan kecil kemanapun pergi, kalo habis isinya akan aku beli buku agenda baru. Begitulah pentingnya buku agenda bagiku.
Aku langsung membuang centong nasi, dan berteriak.
"Eshaa buku umi..." Aku bekap buku itu dengan kasih sayang.
Esha ketakutan. Kemarin aku juga marahin dia gara gara mencoret dinding, saat itu aku pelan pelan kasih tau kalo mau coret coret dibuku ya dek.. jangan di dinding. Dinding bukan buat coretan.
Kali ini udah bener dia, coret dibuku bukan di dinding. Kok umi marah lagi ah... umi ga asik. Selalu salah. Pasti itu yang ada di benaknya.
Banyak lagi momen momen yang membuat situasi tegang dengan esha dan abid.
Lain waktu abi bilang "mi.. anak anak butuh solusi bukan di pojokan, coba apa untungnya umi marah, anak jadi kena mental, umi habis itu merasa bersalah, tapi nanti anak anak ulang lagi. Karena anak butuh solusi, di contohin yang bener yang mana, mereka hanya anak kecil, bukan kita yang sudah bisa menimbang baik buruk.
Hiks.. ya tauu.. tapi tetap saja semua terjadi dan terjadi lagi.
Pokoknya 6 bulan awal di jerman. Keliatan bahagia dengan postingan jalan jalan hi hi, tapi sesungguhnya sedang berjuang memperbaiki mental setiap hari selalu ada kejutan.
Februari awal, aku duduk sendirian di samping jendela kaca dekat balkon, memandang salju berhamburan dengan lebatnya. Kopi aaa terakhir di tangan ku sesap pelan pelan.
Berat sekali. Air mata menetes.
Abi abid akhirnya paham aku juga butuh teman cerita. Kami banyak berdiskusi akhirnya.
Semua khawatir yang aku simpan sendiri, menyeruak keluar. Tak dapat ku sembunyikan lagi.
Kami mengurut satu persatu masalah. Kami membuat list pemecahan masalah bersama. Masalah, solusi lalu dibuat semacam life mapping (peta rencana hidup) yang di print di kertas lalu di tempel untuk di laksanakan.
Akhirnya dia meyakinkan ku. Bahwa tugasnya adalah mewujudkan semua sisa sisa mimpiku. Aku lega plong.
Untuk mengelola urusan rumah tangga yang begitu rumit ini, kami putuskan untuk kursus,intinya aku belajar lagi, di grup grup wa dan zoom, bahkan aku kursus masak sambal, kue kue basah dan banyak lagi. 😅😆
Ada banyak kursus peningkatan skill yang bertebaran dengan mudah sekarang asal mau mencari saja.
Aku belajar banyak menjadi ibu rumah tangga profesional.
Mungkin kalian ga percaya, aku mulai kursus bagaimana memanajemen, menyusun, melipat, merapikan dan membersihkan pakaian. 😅
Juga kursus bagaimana menata mental ibu rumah tangga.
Mashaallah malu banget pas dapat hadist dari pemateri
“…Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.. Istri adalah pemimpin dalam urusan rumah tangga suaminya dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (HR. Bukhari)”
Rasanya pertanyaan besarku selama ini terjawab..
Justru tugas pokok saya itu dirumah, bukan menyelematkan dunia 😅🤭
(Ah buka baju dinas ranger dulu kalo gitu)
Bahkan, Begitupun ketika Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wasallaam menikahkan putrinya Fatimah radhiyallahu'anha, beliau berkata kepada Ali radhiyallahu'anhu :
“Engkau Berkewajiban Bekerja dan Berusaha sedangkan dia Berkewajiban Mengurus Rumah Tangga”
Kisah lainnya yang menguatkan adalah saat fatimah menghadap rosullullah lalu menunjukkan tangannya yang penuh luka gara gara urusan rumah tangga, dan mengajukan beberapa budak untuk dijadikan khadimat dirumahnya, karena dia begitu kepayahan mengurus rumah tangganya.
Rosullullah diam, lalu malam harinya rosul mendatangi fatimah dan Ali, rasullullah duduk diantara kedua anak dan menantunya itu seraya berkata
Mau ku ajarkan sesuatu yang beruntung, yang jauh menguntungkan dari adanya budak yang akan membantu kalian di rumah,
Hal itu adalah jika kalian hendak tidur maka bertakbirlah sebanyak 34 kali, bertasbihlah sebanyak 33 kali, kemudian bertahmidlah sebanyak 33 kali itu lebih baik dari pada kalian mendapatkan seorang khadimat.
Aku juga pernah mendengar versi yang lain,
Wahai Fatimah putriku, Jika kau mau aku bisa meminta kepada Allah untuk membantumu, penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. tetapi Allah SWT menghendaki agar dituliskannya kebaikan dan dihapuskan beberapa kesalahan-kesalahanmu serta diangkat derajat untukmu beberapa derajat.”
(Bukan berarti ga boleh ada khadimat ya, boleh boleh saja jika mampu, hanya saja pesan tersiratnya jika bisa dilakukan sendiri maka lakukan dengan tangan sendiri urusan rumah tangga ini, ganjaran semuanya adalah pahala dari Allah, lelah letihmu menjadi saksi kelak dihadapan Allah bahwa dibawah kepemimpinanmu urusan domestik rumah tanggamu terkelola dengan sangat baik karena memang itulah job desk seorang istri dalam islam yakni memastikan rumah tangganya terkelola dengan baik)
Nyess rasanya... Sampai dihati.
Allah ini maksud Engkau ya? Terimakasih Allah aku baru mengerti.
Allah ingin aku belajar menjadi ibu rumah tangga profesional rupanya.
Layaknya ending di pelem kartun, awan hitam yang selama ini menyelimuti negeri para peri akibat mantra sihir penyihir jahat, berubah menjadi terang benderang, istana yang suram,kelam, muram durjana menjadi bersinar, semua tumbuhan dan bunga bunga bermekaran. Dan semua bersuka ria.
Aku suka hepi ending.
Sekarang prioritas utama hanya memastikan semua kondisi dan sudut sudut rumah aman damai sentosa.
Sekarang menyelamatkan handuk basah dikasur yang di lempar paksu menjadi tringgg... Pahaallaa.. seperti mengumpulkan koin dalam main game subway surfers.
Ahhaaa...
Semua akan mudah jika tau ilmunya dan manfaatnya.
Semoga Allah meridhoi kita semua ya ibu ibu selaku menteri keuangan, guru, koki, design interior, menejer, ranger, cat women, barbie, queen, uma, kang taman, kang londri, kang sapu, kang ngepel dalam rumah tangga kita semua. Hi hi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Uang Baru yang Sempat Viral Menggunakan Sentuhan modern dan Sulit dipalsukan

Halo teman-teman,  Pernah dengar tentang UPK 75 belum? Oke saya kasih clue sedikit ya, setuju! Tahun 2020 silam, teman-teman di media sosial pada heboh ya meng- update foto uang Rp 75.000; beberapa teman dekat saya pun melakukannya, tapi pada saat itu saya tidak tertarik untuk mengulas lebih lanjut, karena apa? Saya hanya menganggap sesuatu yang viral itu tidak harus latah untuk diikuti. Yap udah bisa menebak ya, saya sedang membicarakan apa? Ya benar saya sedang membicarakan  uang yang diproduksi khusus oleh pemerintah untuk memperingati (commemorative) peringatan kemerdekaan 75 tahun kemerdekaan Indonesia yang kemudian disingkat menjadi UPK 75. Sebagai masyarakat awam, saat itu saya memang mencari tahu sedikit informasi, mengapa pemerintah mengeluarkan uang tersebut, hanya membaca sekilas saya mengambil kesimpulan bahwa uang 75 ribu rupiah yang dikeluarkan pemerintah tersebut (lebih) untuk tujuan koleksi. Alasan saya juga diperkuat setelah melihat perilaku teman-teman yang berhasil

Membuat pizza enak, murah, cocok di lidah orang Indonesia dan Anti Gagal (bahan-bahan yang digunakan dalam bahasa Jerman)

Pagi.. Entah bagaimana caranya supaya sarapan pagi bisa lebih variatif, bosan banget tiap hari makan roti tawar dengan olesan marmalade, atau nuttela, atau nasi goreng. Aku yang tinggal di Jerman ini, tentu lebih pusing sedikit, sepertinya budaya Jajan dan beli sarapan pagi sudah lama aku tinggalkan, semua makanan yang di inginkan harus dibuat sendiri. Ada banyak faktor untuk tidak membeli Jajan, pertama faktor kehalalan, kedua faktor mahal, ketiga rasa yang kadang tidak  sesuai dengan lidah orang Asia. Terpaksa jadi berguru dengan cookpad dan youtube, lalu menyesuaikan dengan ingredient yang ada. Berkali-kali gagal, berkali-kali buang adonan, berkali-kali juga harus mencoba, akhirnya aku menemukan resep yang pas, cepat dibuat, bahannya simpel, dan enak. Sekarang aku mau membagi resep pizza anti gagal dan membuat dough pizza tanpa harus lama, hanya 10 menit bisa membuat pizza tuna mehl, cocok untuk sarapan pagi yang super buru buru. Mari kita coba! Bahan-bahan (ingredient) dought pizza

Memaknai ujian sekolah

well, im coming... Bentar lagi ujian semester, yah masih seperti biasa, berkutat dengan rutinitas sebagai pendidik generasi bangsa. banyak keluhan dari siswa mengenai ujian semester, jangan kan ujian semester ulangan harian saja menjadi momok yang menakutkan bagi siswa, hem... jika di runut masalahnya adalah berawal dari kebiasaan sih, coba kalo jaman dulu masyarakat kita membiasakan ujian adalah perayaan, mungkin sekarang secara psikologis kita lebih siap menghadapi ujian apapun. yah... setelah berfikir lebih jauh dan mencoba sharing pendapat dengan para siswa, sedikit ada benang merah, sebenarnya bukan takut pada ujiannya tapi lebih kepada persiapan ujiannya yang lebih membutuhkan energi, waktu, dan mental. aku manggut-manggut tanda mengerti, kalo begitu yang perlu di evaluasi adalah cara. selama ini terdoktrin bahwa "Belajar lah dengan tekun karena sebentar lagi kita akan ujian "(salah sendiri sih.. belajar hanya pada saat ujian datang, seharusnya kan Belajar itu sepanj